BOYOLALI — Gubernur Jawa Tengah Luthfi mengangkat isu penanganan serangan kawanan satwa liar saat membuka forum Rembug Pembangunan di Boyolali, baru-baru ini. Persoalan itu dinilai membutuhkan respons cepat dan terpadu antara pemerintah provinsi, kabupaten, hingga tingkat desa.
Luthfi menilai konflik antara manusia dan satwa liar, terutama di wilayah lereng gunung, mulai mengganggu aktivitas warga dan sektor pertanian. Ia menyebutkan beberapa wilayah di Jawa Tengah kerap menerima laporan gagal panen akibat serangan babi hutan atau kera ekor panjang. "Ini bukan sekadar masalah pertanian, tapi sudah menyangkut keselamatan warga. Penanganannya harus lintas sektor," ujar Luthfi dalam forum tersebut.
Forum Rembug Pembangunan ini sengaja dirancang bergilir di setiap eks karesidenan. Tujuannya, menurut Luthfi, agar skema pembangunan tidak bersifat seragam dari atas, melainkan tematik sesuai kebutuhan masing-masing wilayah. Boyolali yang berada di eks Karesidenan Surakarta dipilih sebagai lokasi pertama karena memiliki karakteristik agraris sekaligus rawan konflik satwa. "Kami ingin pembangunan itu kolaboratif. Bukan program dari Jakarta atau Semarang lalu dipaksakan, tapi didiskusikan bersama," kata Luthfi.
Luthfi meminta setiap kabupaten di eks Karesidenan Surakarta untuk menyusun peta rawan konflik satwa liar di wilayahnya masing-masing. Data itu akan menjadi dasar alokasi anggaran dan pembentukan tim respons cepat di tingkat kecamatan. "Jangan sampai petani sudah rugi berkali-kali, baru kita bergerak. Ini harus antisipatif," tegasnya. Forum selanjutnya direncanakan berlanjut di eks karesidenan lain dalam beberapa bulan ke depan.