TEBO — Persoalan sampah di Kabupaten Tebo kian pelik. DLH-Hub setempat mengakui armada dan personel yang ada tidak lagi sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan masyarakat, terutama di kawasan perkotaan Tebo Tengah dan Rimbo Bujang. Kepala DLH-Hub Tebo, Eryanto, menyebut pengajuan penambahan armada telah disampaikan ke Bupati, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), dan DPRD Kabupaten Tebo.
Dari empat unit mobil operasional yang dimiliki, satu unit difokuskan untuk wilayah Sungai Bengkal dan Sungai Keruh. Tiga unit sisanya harus melayani Tebo Tengah yang memiliki volume sampah paling tinggi. Selain mobil, DLH-Hub juga mengandalkan becak motor (bentor). Namun Eryanto mengungkapkan, bentor yang seharusnya bertugas di perumahan kerap ditarik untuk membantu pengangkutan di jalan lintas karena kebutuhan pelayanan sangat mendesak.
"Bentor yang selesai bertugas di wilayah perumahan sering kita tarik untuk membantu pengangkutan di jalan lintas karena kebutuhan pelayanan cukup tinggi," ujar Eryanto saat ditemui di kantornya, Jumat (5/6/2026).
Keterbatasan armada berdampak langsung pada petugas lapangan. Jika biasanya satu kendaraan cukup melakukan satu kali perjalanan, kini harus dua hingga tiga kali perjalanan dalam sehari agar sampah tidak menumpuk. Eryanto mengakui, tenaga angkut di Kecamatan Rimbo Bujang paling sering mengeluhkan beban kerja yang kian berat.
"Kalau sopir mungkin masih bisa menyesuaikan, tetapi tenaga angkut sering mengeluh karena beban kerjanya semakin berat ketika harus melakukan beberapa kali perjalanan dalam sehari," katanya.
Untuk keluar dari krisis ini, Pemkab Tebo tidak hanya mengandalkan APBD. Eryanto menyebut Bupati Tebo telah melakukan audiensi ke sejumlah kementerian untuk meminta bantuan kendaraan operasional pengangkut sampah. Pengalaman sebelumnya, kementerian yang kerap membantu pengadaan armada berasal dari sektor pekerjaan umum.
"Pengajuan penambahan armada sudah kita lakukan. Mekanismenya melalui Bupati, kemudian dibahas bersama TAPD dan juga ditembuskan ke DPRD. Dukungan semua pihak sangat diperlukan karena persoalan sampah merupakan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat," tegas Eryanto.
Di tengah keterbatasan, DLH-Hub juga meminta partisipasi warga. Eryanto mengimbau masyarakat di Tebo Tengah dan Rimbo Bujang untuk membuang sampah pada malam hari, sehingga petugas bisa mengangkutnya mulai pukul 08.00 WIB.
"Kalau siang hari masyarakat kembali membuang sampah di lokasi yang sudah dibersihkan, tentu sampah akan menumpuk lagi," keluhnya.
Imbauan tersebut telah disampaikan melalui camat dan ketua RT. Namun Eryanto menyoroti masih adanya titik pembuangan sampah liar, seperti di kawasan Pengkolan Mataram Sakti KM 7 yang tidak memiliki permukiman penduduk tetapi kerap dipenuhi tumpukan sampah dari oknum tidak bertanggung jawab. Meski demikian, DLH-Hub tetap membersihkan titik-titik tersebut karena menyangkut estetika dan kesehatan lingkungan.