JAKARTA — Rupiah melanjutkan tren positif di hadapan dolar AS. Berdasarkan data pasar, kurs rupiah berada di posisi Rp18.134 per dolar AS, naik signifikan dibandingkan penutupan sebelumnya yang menyentuh Rp18.188.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan sentimen global menjadi katalis utama pergerakan ini. Meredanya eskalasi konflik antara Iran dan Israel membuat harga minyak dunia ikut turun, sehingga mengurangi tekanan terhadap mata uang negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia oleh meredanya geopolitik di Timteng dimana Iran dan Israel untuk sementara waktu menghentikan penyerangan,” kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penghentian serangan terhadap Israel. Namun, pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Tasnim menegaskan bahwa langkah ini bukan tanpa syarat. Angkatan bersenjata Republik Islam Iran menyebut Israel dan para pendukungnya telah mendapat pelajaran dari respons Teheran yang dilakukan demi mendukung rakyat Lebanon.
Mereka memperingatkan bahwa jika agresi Israel berlanjut, khususnya di Lebanon selatan, maka “tindakan yang jauh lebih parah dan menghancurkan akan menanti.” Di sisi lain, surat kabar Israeli Hayom melaporkan bahwa Tel Aviv dan Washington telah menyampaikan pesan ke Teheran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan jika Iran tidak melanjutkan serangan.
Meski mendapat angin segar dari luar negeri, penguatan rupiah dinilai masih terbatas. Lukman mengingatkan bahwa faktor internal belum sepenuhnya pulih. “Namun, penguatan akan terbatas mengingat sentimen domestik yang masih negatif. Sentimen yang telah memburuk menjadi krisis kepercayaan,” ungkapnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun tekanan eksternal mereda, pasar masih menunggu kepastian dari kebijakan dalam negeri untuk menjaga laju rupiah tetap stabil.