JAMBI — Lonjakan angka partisipasi PAUD di Kota Jambi menjadi modal awal pemerintah daerah mengejar target wajib belajar 13 tahun. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dari 59 persen menjadi 88 persen untuk anak usia 5-6 tahun yang bersekolah di PAUD.
“Berkat kolaborasi antara tim Bunda PAUD, TP PKK, kader Posyandu, dan Dinas Pendidikan, terjadi peningkatan jumlah anak usia 5–6 tahun yang bersekolah di PAUD,” ungkap Nadiyah dalam Rapat Koordinasi Bunda PAUD Kota Jambi di Aula TP PKK setempat.
Nadiyah menegaskan capaian 88 persen baru langkah awal. Menurutnya, masih banyak anak usia dini yang belum mendapatkan hak pendidikan layak di masa krusial pertumbuhan otak.
Ia mengingatkan bahwa fase usia 0 hingga 5 tahun merupakan golden age dengan perkembangan otak mencapai 80 hingga 90 persen. Pada masa ini, stimulasi dan gizi optimal tidak boleh ditawar-tawar.
Seluruh jajaran Bunda PAUD di tingkat kecamatan dan kelurahan, serta kader Posyandu, diinstruksikan untuk gencar mengedukasi masyarakat. “PAUD ini ruang penting untuk membentuk kesiapan anak menghadapi pendidikan berikutnya, baik dari segi kemampuan dasar maupun karakter sosial seperti empati dan kerja sama,” jelasnya.
Demi memperluas akses bagi keluarga kurang mampu, Pemkot Jambi tidak hanya mengandalkan partisipasi masyarakat. Pemerintah kota menambah fasilitas PAUD negeri dari dua unit menjadi lima unit yang tersebar di berbagai wilayah.
Koordinasi dengan pemerintah pusat terus dijalin untuk menambah kuota pembangunan di kecamatan yang membutuhkan. Langkah ini diambil untuk memastikan asas keadilan sosial dalam pendidikan sejak usia dini.
Pemkot Jambi meluncurkan inovasi digital bernama Gerakan Sapa Bahagia yang diintegrasikan melalui aplikasi khusus. Aplikasi ini memungkinkan pendataan by name by address bagi anak usia 4–6 tahun yang belum masuk PAUD.
“Data ini yang menjadi dasar intervensi kami di lapangan agar tidak ada satu pun anak di Kota Jambi yang tertinggal,” pungkas Nadiyah. Dengan sistem ini, pemerintah bisa menjangkau langsung keluarga yang anaknya belum tersentuh layanan pendidikan. Target selanjutnya adalah menyapu bersih sisa 12 persen anak yang belum terdaftar di PAUD.