JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah berlanjut di tengah memanasnya kembali ketegangan geopolitik global. Berdasarkan data penutupan perdagangan Kamis, kurs rupiah melemah dari posisi sebelumnya Rp17.944 per dolar AS menjadi Rp17.989 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan faktor eksternal menjadi pemicu utama pelemahan kali ini. "Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi dari faktor global risiko geopolitik meningkatnya eskalasi konflik AS Israel dan Iran terbaru," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Eskalasi terbaru dipicu oleh rangkaian serangan udara yang dilancarkan pasukan Amerika Serikat di wilayah selatan Iran. Mengutip laporan Anadolu, dentuman dan serangan udara dilaporkan terjadi di kawasan Kargan, Kota Minab, serta ledakan terdengar hingga Bandar Abbas.
Media Iran juga melaporkan sistem pertahanan udara aktif di wilayah Jask, Qeshm, dan Sirik di Provinsi Hormozgan. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan aksi "membela diri" atas instruksi langsung Presiden AS Donald Trump untuk merespons apa yang mereka sebut agresi berkelanjutan dari Iran.
Tak tinggal diam, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menyerang 18 titik aset militer AS di Kuwait dan Bahrain. Target tersebut meliputi Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, serta Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.
Selain faktor geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh menurunnya minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah. Kondisi ini mendorong kenaikan tingkat imbal hasil atau yield yang lebih tinggi.
"Yield tenor 10 tahun naik 10 bps (basis points) ke 7,45 persen, 8 tahun naik 17 bps menjadi 7,46 persen, dan tenor 5 tahun naik 2 bps menjadi 7,47 persen," ungkap Rully.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga mencatat pelemahan ke level Rp17.981 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.971 per dolar AS.