JAKARTA — Penguatan rupiah terjadi di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal dalam negeri. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut koordinasi antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang semakin solid menjadi katalis utama.
Menurut Josua, sejumlah indikator fiskal menunjukkan perbaikan. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disebut masih terkendali, sementara keseimbangan primer mencatatkan surplus.
“Faktor domestik yang membantu rupiah adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (sewaktu).
Langkah BI menaikkan suku bunga acuan dinilai memberikan bantalan bagi stabilitas rupiah. Selain itu, daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi mulai mengundang kembali aliran dana asing.
Josua menambahkan, minat asing terfokus pada SRBI serta SBN tenor pendek dan menengah. Namun, ia mengingatkan bahwa pasar masih menanti bukti konsistensi disiplin fiskal hingga akhir tahun.
“Belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua dan risiko subsidi energi masih besar,” ungkapnya.
Di sisi lain, laju penguatan rupiah tertahan oleh sejumlah tekanan eksternal. Penguatan dolar AS kembali terjadi setelah eskalasi ketegangan di Timur Tengah mendorong pelaku pasar beralih ke aset safe haven.
“Berita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset yang dianggap lebih aman,” jelas Josua.
Pelaku pasar juga masih mencermati arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan pergerakan imbal hasil obligasi AS. Selama dolar AS masih perkasa dan harga minyak mudah bergejolak, rupiah dinilai tetap rentan meskipun BI sudah menaikkan suku bunga.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga bergerak menguat ke level Rp17.921 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.981 per dolar AS.