MUARA BULIAN — BPBD Kabupaten Batang Hari terus memperkuat upaya mitigasi bencana dengan mengedukasi masyarakat lewat program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Sekretaris BPBD Batang Hari, Sholihin, mengatakan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan warga terhadap potensi bencana yang mengintai, terutama saat musim kemarau seperti sekarang.
Sholihin menjelaskan bahwa saat ini Batang Hari telah memasuki musim kemarau, sehingga dua ancaman utama menjadi prioritas: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. Berdasarkan kajian risiko bencana daerah periode 2026–2030, delapan kecamatan masuk kategori risiko tinggi karhutla. Luas wilayah yang terancam mencapai lebih dari setengah juta hektare.
"Salah satu penyebab utama karhutla masih berasal dari praktik pembukaan lahan perkebunan dengan cara dibakar," ujar Sholihin di Muara Bulian, Kamis.
Selain karhutla, ancaman kekeringan juga membayangi seluruh wilayah Batang Hari. Empat kecamatan masuk kategori risiko tinggi, yakni Batin XXIV, Maro Sebo Ulu, Mersam, dan Muara Tembesi. Sementara empat kecamatan lainnya — Bajubang, Maro Sebo Ilir, Muara Bulian, dan Pemayung — berada pada kategori risiko sedang. Total luas wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan mencapai 545.368,90 hektare.
BPBD Batang Hari secara aktif mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Praktik ini dinilai menjadi pemicu utama karhutla yang dampaknya meluas, mulai dari kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, hingga kerugian ekonomi warga. Masyarakat juga diajak memahami langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri melalui penyebarluasan informasi serta protokol keselamatan darurat.
"Melalui kerja sama seluruh pihak, kami berharap Kabupaten Batang Hari menjadi daerah yang semakin tangguh, aman, siap, dan selamat dalam menghadapi berbagai potensi bencana," kata Sholihin.
Sholihin menambahkan, upaya mitigasi tidak hanya dilakukan melalui langkah teknis, tetapi juga dengan memperkuat doa dan harapan agar wilayah Batang Hari dijauhkan dari segala bentuk bencana. Ia mengajak seluruh elemen — pemerintah, dunia usaha, relawan, dan masyarakat — untuk berkolaborasi meminimalkan risiko bencana di daerah tersebut.