JAMBI — Pemulihan pascabencana di Kabupaten Agam tidak hanya mengandalkan pemerintah daerah. Sejak 1 Agustus 2026, sebanyak 217 mahasiswa dari 34 perguruan tinggi diterjunkan ke Nagari Salareh Aia dan Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, untuk membantu warga bangkit melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) bertema 'Bangkik Basamo Mambangun Nagari'.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah X dan LLDikti Wilayah III. Penutupan resmi dilakukan di Aula Kampus Universitas Fort de Kock (UFdK) Bukittinggi, Senin (10/8/2026), menandai berakhirnya pengabdian mahasiswa selama sepuluh hari di lokasi bencana.
Berbeda dengan KKN reguler yang umumnya berfokus pada satu bidang, mahasiswa yang tergabung dalam program ini menjalankan program kerja yang menyasar empat sektor sekaligus. Bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, dan pertanian menjadi prioritas utama untuk menghidupkan kembali roda perekonomian warga.
Selain itu, penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana juga menjadi perhatian serius. Hal ini dinilai krusial mengingat wilayah Palembayan baru saja dilanda bencana hidrometeorologi yang melumpuhkan aktivitas warga.
Kepala LLDikti Wilayah X, Afdalisma, menegaskan bahwa kolaborasi antar-kampus ini diharapkan tidak berhenti setelah program KKN berakhir. Menurutnya, sinergi antara kampus di wilayah Sumatera dan Jakarta ini merupakan modal sosial yang kuat untuk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
"Kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antarkampus yang diharapkan tidak berhenti setelah program KKN berakhir," ujar Afdalisma dalam sambutannya di acara penutupan, Senin (10/8/2026).
Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat yang tengah berduka dan berjuang memulihkan diri menjadi suntikan energi tersendiri. Selama sepuluh hari, mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga berinteraksi langsung dengan warga untuk memetakan kebutuhan riil di lapangan.
Program ini menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi hadir menjawab persoalan kebangsaan, khususnya dalam momen pemulihan pascabencana. Keterlibatan mahasiswa dari berbagai kampus di dua wilayah LLDikti yang berbeda menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.