JAMBI — Luas lahan terbakar di Provinsi Jambi mencapai 137,72 hektare, dengan sebaran titik api terbanyak berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang mencapai 451 hotspot. Data ini disampaikan Gubernur Jambi Al Haris dalam rapat virtual bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Dalam laporan tersebut, Kabupaten Muaro Jambi menyusul dengan 339 titik api, disusul Sarolangun 199 titik, dan Merangin 138 titik. Adapun wilayah dengan titik api terendah tercatat di Kota Sungai Penuh dengan satu titik.
Gubernur Al Haris mengaku telah turun langsung selama tiga hari sejak Minggu (9/8/2026) memantau pemadaman di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Di lokasi tersebut, api menghabiskan area seluas 50 hektare.
Kondisi lapangan yang sulit diakses dan ketersediaan air yang terbatas menjadi kendala utama. Hembusan angin kencang juga berisiko memperluas area kebakaran, sehingga pemadaman dilakukan melalui dua jalur sekaligus, yaitu darat dan udara.
"Saya mengapresiasi upaya teman-teman yang sudah bekerja luar biasa. Tinggal lagi kita minimalkan perluasan pembakarannya," kata Al Haris kepada tim gabungan di lokasi.
Pemerintah Provinsi Jambi telah menyiapkan 81 posko di wilayah rawan karhutla. Namun, Sekretariat Bersama PSDH Jambi, Feri Irawan, mendorong agar posko tidak sekadar menjadi tempat berkumpul personel, melainkan berfungsi sebagai pusat komando informasi.
"Posko harus menjadi pusat komando informasi dan respons cepat," tegas Feri Irawan. Ia meminta sistem komunikasi, pemantauan, dan pelaporan diperkuat dari tingkat desa hingga posko induk.
Hingga Selasa (11/8/2026), tim Satgas Karhutla Provinsi Jambi bersama unsur TNI/Polri masih berada di lapangan untuk melakukan pemadaman, pendinginan, serta tindakan preventif. "Mudah-mudahan tidak meluas lagi," ujar Al Haris.
Ketua Komite Daerah Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Jambi, Taufik Qurochman, menyatakan perusahaan anggota terus meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan. Patroli rutin dan sistem deteksi dini diperkuat untuk memastikan api tidak muncul.
"Fokus kami adalah mencegah api muncul dan memastikan apabila terjadi kebakaran dapat segera ditangani," katanya.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Jambi berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Fenomena El Nino berpotensi memperparah kondisi kering, khususnya di kawasan ekosistem gambut yang menjadi perhatian utama dalam rapat koordinasi tersebut.