JAMBI — Stella Juva bukanlah ambulans konvensional yang membawa pasien ke rumah sakit. Mobil ini justru membawa tenaga medis dan peralatan kesehatan menuju pasien di lokasi yang sulit dijangkau. Dengan panel surya terintegrasi di atap, kendaraan ini dapat menjalankan fungsi layaknya klinik keliling, mulai dari tes darah, skrining tuberkulosis dan malaria, hingga pemeriksaan USG kehamilan.
Femke Maurits, partnerships manager Amref Health Africa di Belanda yang menjadi penasihat proyek, menegaskan pentingnya inovasi ini. "Akses layanan kesehatan seharusnya tidak bergantung pada ketersediaan listrik atau bahan bakar," ujarnya.
Sel Surya Khusus yang Tahan Panas untuk Wilayah Tropis
Untuk memastikan pasokan listrik tetap stabil, tim menggunakan sel surya AIKO All Back Contact (ABC). Teknologi ini menempatkan kontak listrik di bagian belakang sel sehingga penyerapan cahaya lebih maksimal. Selain itu, metallisasi bebas perak diklaim mengurangi risiko microcracks yang kerap menjadi sumber kerusakan panel.
Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah kemampuan sel mempertahankan output saat suhu tinggi. Ini menjadi fitur krusial karena Stella Juva memang diproyeksikan beroperasi di kawasan panas seperti Afrika. Baterai kendaraan juga dilindungi lapisan epoxy PPG CoraChar SE 4000 yang dirancang memperlambat rambatan api jika sel baterai mengalami thermal runaway.
Jejak Rekam Proyek Sebelumnya dan Target Uji Afrika
Solar Team Eindhoven bukan pendatang baru di dunia kendaraan surya. Sebelumnya mereka sukses menggarap Stella Vita, mobil kemping bertenaga matahari, dan Stella Terra, SUV off-road yang pada 2023 menuntaskan uji berkendara sejauh 620 mil melintasi Maroko dan Sahara.
Uji coba Stella Juva di Kenya pada Agustus nanti akan menjadi pembuktian yang sesungguhnya. Tim akan menempuh perjalanan ratusan kilometer mengandalkan tenaga surya murni. Di dua lokasi lapangan terpencil, tenaga kesehatan akan menyimulasikan penanganan pasien tuberkulosis untuk mengukur performa klinik keliling ini di luar lingkungan workshop universitas.
Dukungan dana untuk pengembangan kendaraan ini mencapai US$46.250 atau sekitar Rp 740 juta (kurs Rp 16.000), berasal dari hibah PPG. Jika uji coba di Kenya berhasil, Stella Juva berpotensi menjadi solusi mobilitas kesehatan bagi wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi dari layanan medis modern.