Angka tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi CCI Provinsi dan Kabupaten/Kota 2025. Indeks ini mengukur tingkat biaya konstruksi relatif terhadap kota acuan, yaitu Surabaya. Semakin tinggi nilai CCI, semakin mahal biaya konstruksi di wilayah tersebut.
Dengan skor 99,13 poin, biaya konstruksi di Tanjung Jabung Timur setara dengan 0,991 kali biaya konstruksi di Surabaya. Nilai ini menurun 1,91 poin dibandingkan tahun sebelumnya, dan turun 1,57 poin dalam lima tahun terakhir.
Dari 12 kabupaten/kota di Jambi, Tanjung Jabung Timur menempati peringkat ke-10 termahal. Posisi ini menunjukkan bahwa biaya konstruksi di daerah tersebut masih di atas rata-rata provinsi.
Berikut lima kabupaten/kota dengan CCI tertinggi di Jambi pada 2025:
Sementara itu, lima daerah dengan biaya konstruksi terendah adalah Kabupaten Bungo (87,74 poin), Batang Hari (87,83 poin), Sarolangun (90,47 poin), Tebo (90,77 poin), dan Muaro Jambi (93,52 poin).
Indeks Biaya Konstruksi menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dan kontraktor dalam merencanakan anggaran proyek infrastruktur. Semakin tinggi CCI, semakin besar dana yang harus dialokasikan untuk material dan upah tenaga kerja.
Bagi Tanjung Jabung Timur yang tengah giat membangun akses jalan dan irigasi pertanian, angka ini menjadi sinyal efisiensi. Pemkab setempat perlu mencermati komponen biaya yang paling dominan, seperti harga semen, besi beton, atau upah tukang, untuk menekan selisih harga dengan kota acuan.
Data BPS ini juga bisa menjadi bahan evaluasi bagi para pengusaha properti dan investor. Sebelum memutuskan membangun perumahan atau kawasan industri di Tanjung Jabung Timur, mereka perlu memperhitungkan selisih biaya konstruksi yang mencapai hampir 12 poin lebih tinggi dibandingkan daerah termurah di Jambi.