JAMBI — Dalam uji coba yang berlangsung selama dua hari itu, PTBA menggunakan dua jenis biomassa. Pertama, wood pellet dari tanaman Kaliandra Merah sebesar 2 persen dari total bahan bakar. Kedua, biomassa campuran dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3 persen.
Angka ini naik dibanding uji coba tahap pertama pada September 2025 yang hanya memakai biomassa 1 persen dari hasil land clearing. "Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara," kata Ferry Fadri Al Ilham, Mine Development Department Head PTBA, Selasa (16/6).
Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST), Zulkurniadi, memastikan implementasi cofiring tidak mengubah sistem operasional PLTU. Boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB) yang dipakai PLTU Banko Barat dinilai mampu menangani biomassa meskipun nilai kalornya lebih rendah dari batu bara.
"Performa dan keandalan pembangkit tetap terjaga dengan baik," ujar Zulkurniadi. Uji coba berjalan tanpa perlu perubahan konstruksi maupun sistem utama pembangkit.
Biomassa Kaliandra Merah yang digunakan berasal dari Kebun Energi hasil kolaborasi PTBA dengan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVYK). Proyek ini sudah berjalan sejak Januari 2024, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan wood pellet.
Mohammad Nurcholis, Guru Besar Fakultas Pertanian UPNVYK, menjelaskan Kaliandra Merah memiliki nilai kalor di atas 4.300 kilokalori per kilogram. Tanaman ini juga mampu menyerap karbon dioksida dan tumbuh kembali setelah dipanen tanpa perlu ditanam ulang. "Kandungan energi yang tinggi membuat proses pembakaran tidak menurunkan kualitas energi yang dihasilkan," kata Nurcholis.
PTBA menyiapkan pasokan biomassa jangka panjang lewat pengembangan Kebun Energi. Tanaman cepat tumbuh seperti Kaliandra Merah menjadi pilihan utama karena bisa dipanen berulang.
Eko Prayitno, Corporate Secretary Division Head PTBA, menekankan kolaborasi antara industri, akademisi, dan perusahaan menjadi kunci transformasi menuju energi bersih. "Langkah ini merupakan bukti nyata komitmen Perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan mempercepat transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih," kata Eko.
Uji coba tahap II ini menjadi dasar evaluasi PTBA untuk mengembangkan implementasi cofiring di masa depan. Jika berhasil, teknologi ini bisa diterapkan di PLTU lain milik perseroan guna menekan emisi tanpa harus membangun pembangkit baru.