JAMBI — Kepolisian Resor Pangandaran tidak hanya bertugas menjaga keamanan. Dalam beberapa pekan terakhir, jajaran Polres setempat aktif mendampingi para petani jagung di wilayah tersebut untuk menjual hasil panen mereka langsung ke Badan Urusan Logistik (Bulog). Tujuannya: memotong rantai tengkulak dan memastikan harga jual menguntungkan petani.
Pendampingan ini merupakan tindak lanjut dari program ketahanan pangan yang menjadi prioritas pemerintah. Para petani yang tergabung dalam kelompok tani dibantu mulai dari proses pemanenan, pengeringan, hingga pengiriman jagung ke gudang Bulog. Dengan begitu, kualitas jagung yang diserap sesuai standar dan harga yang diterima petani lebih transparan.
Kapolres Pangandaran menegaskan bahwa pihaknya ingin hadir lebih dari sekadar aparat keamanan. “Pendampingan ini merupakan upaya kami untuk membantu para petani agar hasil panennya dapat terserap dengan baik dan memiliki nilai ekonomi yang menguntungkan,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama dengan Bulog menjadi solusi konkret agar hasil panen jagung tidak jatuh ke tengkulak dengan harga murah. “Dengan adanya kerja sama bersama Bulog, diharapkan hasil panen jagung petani dapat dipasarkan secara optimal sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi para petani,” tambahnya.
Inisiatif ini disambut antusias oleh para petani. Mereka mengaku kerap kesulitan menjual jagung dengan harga wajar, terutama saat panen raya. Kini, dengan pendampingan polisi, mereka punya kepastian pasar dan harga.
Para petani di Pangandaran berharap sinergi antara Polri, Bulog, dan kelompok tani bisa terus berlanjut. Pasalnya, selama ini fluktuasi harga jagung kerap membuat petani rugi. Dengan adanya penyerapan terjamin, mereka bisa lebih fokus meningkatkan produktivitas lahan.
Polres Pangandaran juga mendorong petani untuk menerapkan teknik budidaya yang baik dan memaksimalkan lahan. Langkah ini sejalan dengan target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat.
Kegiatan ini membuktikan bahwa peran kepolisian bisa meluas ke sektor ekonomi riil. Bukan hanya menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi jembatan antara petani dan lembaga negara seperti Bulog.
Ke depan, model pendampingan serupa berpotensi direplikasi di daerah lain. Jika berhasil, petani jagung tidak lagi bergantung pada tengkulak dan memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam rantai pasok pangan nasional.