TEBO — Suang Sitanggang, anggota AJI Jambi yang turun langsung ke lokasi restorasi, memaparkan temuan lapangan dari sudut pandang jurnalis. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi aspek paling menonjol dalam program yang dijalankan WWF Indonesia bersama kelompok tani di Kabupaten Tebo.
"Dari sejumlah pemberitaan dan hasil pengamatan di lapangan, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi subjek utama yang terlibat sejak penyediaan bibit, penanaman hingga perawatan tanaman," ujar Suang dalam kegiatan tersebut.
Program restorasi ini mencakup area sekitar 163 hektare. Lebih dari 30 ribu bibit telah ditanam, terdiri dari tanaman kehutanan, tanaman buah, hingga komoditas produktif seperti kopi robusta.
Suang menjelaskan, pelibatan petani sejak tahap awal menciptakan rasa kepemilikan yang kuat. Hal ini terlihat dari komitmen tinggi warga dalam merawat tanaman agar tetap tumbuh optimal.
"Petani memiliki harapan bahwa tanaman yang mereka tanam hari ini akan menjadi sumber penghasilan di masa mendatang. Karena itu mereka memiliki tanggung jawab moral untuk merawatnya," kata Suang.
Meski berjalan positif, Suang mengungkapkan sejumlah kendala masih ditemukan. Serangan hama, banjir, serta faktor teknis budidaya menyebabkan tidak seluruh tanaman dapat tumbuh maksimal.
Kondisi ini menjadi catatan bagi semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan Bentang Alam Bukit Tigapuluh, kawasan yang juga merupakan habitat penting gajah Sumatera di Jambi.
Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko menekankan perlunya membangun tata kelola bersama di kawasan tersebut. Menurutnya, bentang alam ini melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, perusahaan, NGO, hingga pengelola kawasan hutan.
Kegiatan diseminasi ini dihadiri pula oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), PT Alam Bukit Tigapuluh, dan perangkat daerah setempat. Pemutaran film dokumenter tentang restorasi turut menjadi bagian dari acara untuk memberikan gambaran visual program kepada peserta.