Rupiah Melemah 56 Poin ke Rp17.977 Akibat Eskalasi Konflik AS-Iran, BI Diperkirakan Naikkan Suku Bunga

Penulis: Syafruddin Amir  •  Senin, 20 Juli 2026 | 13:18:31 WIB
Rupiah melemah 56 poin ke posisi Rp17.977 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Antara, rupiah turun 56 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.921 per dolar AS menjadi Rp17.977 per dolar AS pada Senin pagi.

Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Tekanan Utama

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal. Eskalasi konflik antara AS dan Iran yang kian memanas menjadi katalis negatif bagi mata uang negara berkembang.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp17.900 hingga Rp18 ribu dipengaruhi faktor global eskalasi konflik geopolitik yang berakibat pada kenaikan harga minyak dan index dollar yang menguat,” ujar Rully kepada Antara di Jakarta, Senin.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan dimulainya serangan baru terhadap Iran. Langkah ini disebut dirancang untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Sebagai balasan, militer Iran melancarkan serangan drone berskala besar terhadap dua instalasi militer AS di Kuwait. Target serangan meliputi gudang amunisi di Camp Al Adiri serta sistem rudal Patriot dan instalasi radar pertahanan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem.

Bank Indonesia Diperkirakan Naikkan Suku Bunga Jadi 6 Persen

Dari sentimen domestik, pelaku pasar memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen. Keputusan tersebut dijadwalkan diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (22/7).

“Alasan utama kenaikan suku bunga acuan diantaranya inflasi, nilai rupiah, dan volatility pasar saham seiring dengan review oleh lembaga rating global,” kata Rully.

Langkah ini dinilai sebagai antisipasi terhadap tekanan inflasi yang mungkin timbul akibat pelemahan nilai tukar dan gejolak pasar keuangan global. Investor kini menanti keputusan BI sebagai sinyal stabilitas ekonomi ke depan.

Reporter: Syafruddin Amir
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top