JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diprediksi berlanjut dalam waktu dekat. Pelaku pasar uang masih menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam RDG bulanan yang dijadwalkan pada 21-22 Juli 2026.
“Pelaku pasar masih hati-hati mengantisipasi hasil RDG BI yang kemungkinan akan menaikkan bunga acuan menjadi 6 persen,” ujar Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Kekhawatiran itu muncul setelah BI secara agresif menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir. Pada RDG bulanan 18 Juni 2026, BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Sebelumnya, pada RDG mingguan 9 Juni 2026, BI juga menaikkan suku bunga sebesar 25 bps.
Kenaikan sebesar 50 bps pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah suku bunga bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025. Meski demikian, rupiah sempat terperosok ke level psikologis Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni.
“Kenaikan suku bunga oleh BI masih diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan menstabilkan rupiah,” kata Rully.
Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat mendorong penguatan indeks dolar AS dan menaikkan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertahan di posisi 82,6 dolar AS per barel, sementara minyak Brent berada di level 89,2 dolar AS per barel. Indeks dolar AS tercatat naik menjadi 100,94, menambah tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Meskipun dibayangi sentimen negatif, pada perdagangan Selasa pagi rupiah sempat mencatat penguatan tipis. Nilai tukar rupiah bergerak menguat 11 poin atau 0,06 persen menjadi Rp17.937 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.948 per dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih dalam fase wait and see menjelang keputusan suku bunga BI pekan depan. Keputusan RDG bulanan pada 21-22 Juli 2026 akan menjadi penentu arah rupiah selanjutnya.