IHSG Ditutup Menguat 1,74 Persen ke 6.340, Analis Sebut Valuasi Murah dan Arus Modal Asing Jadi Katalis

Penulis: Hamzah Effendi  •  Selasa, 21 Juli 2026 | 21:39:32 WIB
IHSG ditutup menguat 1,74 persen ke level 6.340 pada perdagangan Selasa.

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Selasa. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut naik 8,89 poin atau 1,42 persen ke posisi 636,64.

Tiga Faktor Penentu Keberlanjutan Penguatan IHSG

Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut keberlanjutan penguatan IHSG ke depan bergantung pada tiga faktor utama. Pertama, konsistensi arus dana asing yang kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Kedua, stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Ketiga, kemampuan emiten membukukan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pasar.

Rotasi Modal Global Menguntungkan Pasar Indonesia

Menurut Hendra, koreksi yang terjadi di sejumlah bursa besar global, khususnya pada saham-saham teknologi yang sebelumnya mengalami euforia kecerdasan buatan (AI), membuka peluang rotasi investasi. Dana asing mulai bergerak menuju pasar negara berkembang dengan valuasi lebih murah, termasuk Indonesia.

“Dengan valuasi IHSG yang relatif lebih menarik dibandingkan beberapa pasar regional, Indonesia berpotensi menjadi salah satu tujuan aliran modal asing apabila kondisi makroekonomi domestik tetap terjaga,” ujar Hendra saat dihubungi ANTARA di Jakarta.

Kinerja Emiten Semester I-2026 Jadi Katalis Positif

Ekspektasi pasar terhadap laporan keuangan emiten periode kuartal II-2026 dan semester I-2026 disebut Hendra akan menjadi katalis positif dalam waktu dekat. Sentimen juga datang dari stabilitas rupiah yang berpotensi membaik berkat komitmen Bank Indonesia menjaga nilai tukar dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dibandingkan negara lain.

Sektor Energi Pimpin Penguatan, Kesehatan Melemah

Secara sektoral, sepuluh dari sebelas sektor di IDX-IC menguat. Sektor energi memimpin dengan kenaikan 3,58 persen, diikuti sektor properti dan barang baku yang masing-masing naik 2,95 persen dan 2,60 persen. Satu-satunya sektor yang melemah adalah kesehatan, yang turun paling dalam sebesar 1,23 persen.

Saham dengan penguatan terbesar antara lain SULI, JGLE, TRON, MLPT, dan AGAR. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni KOKA, OMRE, PAMG, FILM, dan JELI.

Volume Transaksi dan Peringatan Risiko

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.896.000 kali transaksi dengan volume 47,79 miliar lembar saham senilai Rp21,54 triliun. Sebanyak 439 saham naik, 221 saham menurun, dan 305 saham stagnan.

Hendra mengingatkan investor tetap mewaspadai risiko pelemahan rupiah. “Apabila Rupiah kembali melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi meningkat karena dapat memicu kembali aksi jual investor asing sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Bursa Asia: Nikkei dan Kospi Menguat Tajam

Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham ditutup menguat. Indeks Nikkei naik 3,29 persen ke 66.252,00, Shanghai menguat 1,79 persen ke 3.864,37, Kospi melonjak 3,56 persen ke 6.747,95, dan Strait Times naik 0,45 persen ke 5.523,81. Adapun indeks Hang Seng melemah tipis 0,04 persen ke 25.132,29.

Reporter: Hamzah Effendi
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top