JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Selasa. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut naik 8,89 poin atau 1,42 persen ke posisi 636,64.
Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut keberlanjutan penguatan IHSG ke depan bergantung pada tiga faktor utama. Pertama, konsistensi arus dana asing yang kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Kedua, stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Ketiga, kemampuan emiten membukukan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pasar.
Menurut Hendra, koreksi yang terjadi di sejumlah bursa besar global, khususnya pada saham-saham teknologi yang sebelumnya mengalami euforia kecerdasan buatan (AI), membuka peluang rotasi investasi. Dana asing mulai bergerak menuju pasar negara berkembang dengan valuasi lebih murah, termasuk Indonesia.
“Dengan valuasi IHSG yang relatif lebih menarik dibandingkan beberapa pasar regional, Indonesia berpotensi menjadi salah satu tujuan aliran modal asing apabila kondisi makroekonomi domestik tetap terjaga,” ujar Hendra saat dihubungi ANTARA di Jakarta.
Ekspektasi pasar terhadap laporan keuangan emiten periode kuartal II-2026 dan semester I-2026 disebut Hendra akan menjadi katalis positif dalam waktu dekat. Sentimen juga datang dari stabilitas rupiah yang berpotensi membaik berkat komitmen Bank Indonesia menjaga nilai tukar dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dibandingkan negara lain.
Secara sektoral, sepuluh dari sebelas sektor di IDX-IC menguat. Sektor energi memimpin dengan kenaikan 3,58 persen, diikuti sektor properti dan barang baku yang masing-masing naik 2,95 persen dan 2,60 persen. Satu-satunya sektor yang melemah adalah kesehatan, yang turun paling dalam sebesar 1,23 persen.
Saham dengan penguatan terbesar antara lain SULI, JGLE, TRON, MLPT, dan AGAR. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni KOKA, OMRE, PAMG, FILM, dan JELI.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.896.000 kali transaksi dengan volume 47,79 miliar lembar saham senilai Rp21,54 triliun. Sebanyak 439 saham naik, 221 saham menurun, dan 305 saham stagnan.
Hendra mengingatkan investor tetap mewaspadai risiko pelemahan rupiah. “Apabila Rupiah kembali melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi meningkat karena dapat memicu kembali aksi jual investor asing sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham ditutup menguat. Indeks Nikkei naik 3,29 persen ke 66.252,00, Shanghai menguat 1,79 persen ke 3.864,37, Kospi melonjak 3,56 persen ke 6.747,95, dan Strait Times naik 0,45 persen ke 5.523,81. Adapun indeks Hang Seng melemah tipis 0,04 persen ke 25.132,29.