JAMBI — Kondisi ini mulai mengancam aktivitas warga yang menggantungkan hidup pada sungai terpanjang di Pulau Sumatera tersebut, mulai dari kebutuhan air baku, transportasi sungai, hingga sektor pertanian di sepanjang daerah aliran sungai.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan penyusutan debit sungai terjadi dalam dua bulan terakhir. Fase puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus dan September.
"Ini sudah memasuki fase puncak kemarau, karena prakiraan cuaca itu puncak kemarau pada bulan Agustus dan September. Tetapi karena sudah di akhir Juli jadi ini telah masuk fase puncak kemarau," ujar Bachyuni, Selasa (21/7/2026).
Bachyuni menjelaskan, surutnya air sungai menyebabkan tinggi muka air tanah ikut menurun. Akibatnya, lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar, terutama di kawasan bergambut.
"Surutnya air sungai ini tentu juga dapat memicu meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan bergambut," kata Bachyuni.
Menurutnya, penanganan kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit dibandingkan lahan mineral. Api membakar hingga ke lapisan bawah tanah dan membutuhkan proses pendinginan setelah api berhasil dipadamkan.
"Dengan kondisi kemarau begini, itu kan jadi sulit penanganan pemadamannya. Apalagi, meski harus ada pendinginan jika sudah padam, namun untuk mengambil airnya juga di sungai Batanghari lewat waterbombing," ucapnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD Provinsi Jambi telah menempatkan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla di sejumlah lokasi rawan. Posko-posko juga sudah didirikan, khususnya di wilayah dengan konsentrasi lahan gambut tinggi.
"Maka untuk memastikan tidak ada kebakaran hutan dan lahan seperti dulu, Satgas juga telah ditempatkan, posko juga sudah dibuat di beberapa lokasi yang rawan karhutla di Jambi terutama di lahan gambut," ucap Bachyuni.
Bachyuni mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar selama musim kemarau ini. Langkah tersebut dinilai sangat berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
"Pada intinya kami mengimbau jangan membuka lahan dengan cara membakar pada musim kemarau ini," tegasnya.