JAMBI — Debit Sungai Batanghari terus menyusut sejak akhir Juli 2026, lebih awal dari proyeksi yang memperkirakan puncak kemarau pada Agustus–September. Hamparan pasir seluas sekitar lima hektare mulai muncul di tepian sungai di Kota Jambi, Muaro Jambi, dan Kabupaten Batang Hari.
Di Desa Sungai Duren dan Desa Sarang Burung, Kabupaten Muaro Jambi, penyusutan debit menyebabkan kadar oksigen menurun drastis. Ikan di keramba milik warga mati massal, dan produksi ikan keramba apung diperkirakan turun sekitar 30 persen.
Kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Hingga akhir semester pertama 2026, tercatat 1.463 titik panas. Konsentrasi tertinggi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebanyak 451 titik dan Muaro Jambi 339 titik. Luas lahan terbakar mencapai 137,72 hektare. Di Muaro Jambi sendiri telah terjadi 12 kejadian karhutla sejak Januari, terutama di Kecamatan Kumpeh yang didominasi lahan gambut.
Masyarakat di sepanjang bantaran sungai mulai menghadapi krisis air bersih. Sejumlah sumur warga mengalami penyusutan debit, bahkan ada yang mengeluarkan air berbau dan tidak layak pakai. Pemerintah Provinsi Jambi telah membentuk 81 posko terpadu di kawasan rawan karhutla.
Data pemantauan menunjukkan pola penyusutan berulang. Pada 2024, tinggi muka air di Pos Ancol turun hingga 7,99 meter dari normal sekitar 9 meter, sehingga tongkang batu bara tidak bisa melintas selama lebih dari tiga bulan. Pada 2025, kondisi lebih ekstrem: tinggi muka air di Pos Tanggo Rajo turun lebih dari satu meter dalam dua minggu, hamparan pasir mencapai 10 hektare, dan Sungai Batanghari di kawasan Penyengat Rendah sempat bisa diseberangi dengan berjalan kaki. Pada 2026, meski hamparan pasir baru lima hektare, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober sehingga potensi penyusutan masih terbuka.
Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST., MM., MT., mengatakan data historis menunjukkan pola yang terus berulang. “Penyusutan Sungai Batanghari sudah menunjukkan pola yang berulang dari tahun ke tahun. Ini merupakan sinyal bahwa kita menghadapi persoalan yang bersifat struktural. Karena itu, langkah yang dibutuhkan bukan hanya penanganan ketika air sudah surut, tetapi membangun sistem mitigasi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Ia menambahkan, Sungai Batanghari adalah urat nadi kehidupan masyarakat Jambi yang menopang air baku, perikanan, transportasi sungai, dan keseimbangan ekosistem. “Ketika debit air turun drastis, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, mulai dari sektor ekonomi, lingkungan hingga kesehatan. Karena itu kita harus menjaga sungai ini secara bersama-sama,” katanya.