JAMBI — Dua smartwatch anyar Samsung ini datang dengan pembagian peran yang tegas. Galaxy Watch Ultra2 (47 mm) dirancang untuk aktivitas berat—lari trail, mendaki, hingga menyelam—sementara Galaxy Watch9 fokus sebagai pendamping kesehatan harian yang nyaman dipakai 24 jam. Kami sudah memeriksa spesifikasi dan klaim fitur dari bahan rilis resmi Samsung, dan ada beberapa hal yang perlu kamu pahami sebelum mengeluarkan uang.
Ini pertama kalinya lini Galaxy Watch memakai Snapdragon Wear Elite Platform dari Qualcomm. Chipset ini diklaim menghadirkan pemrosesan lebih cepat dan pelacakan GPS presisi. Baik Ultra2 maupun Watch9 sama-sama menggunakannya, jadi perbedaan pengalaman lebih ditentukan oleh sensor dan software, bukan kecepatan chip.
Untuk penggunaan harian, dampaknya paling terasa saat membuka aplikasi Samsung Health atau berpindah antar-mode olahraga. Prosesnya lebih responsif, tidak ada jeda yang mengganggu. Namun, jangan berharap peningkatan ini mengubah cara kerja smartwatch secara fundamental—ini penyegaran yang memang sudah waktunya, bukan lompatan generasi.
Galaxy Watch Ultra2 dibekali baterai 800 mAh—naik sekitar 35 persen dari generasi sebelumnya. Samsung mengklaim bodi justru 12 persen lebih tipis berkat optimalisasi komponen internal. Ini klaim yang menarik, tapi perlu diverifikasi: kapasitas besar sering kali terkikis oleh layar terang dan GPS yang aktif terus-menerus.
Galaxy Watch9 membawa baterai 390 mAh, naik sekitar 20 persen. Untuk pemantauan kesehatan harian plus pelacakan tidur, angka ini masuk akal. Tapi perlu diingat: klaim ketahanan baterai biasanya diukur dalam kondisi ideal. Pemakaian nyata dengan notifikasi penuh, selalu-on display, dan olahraga rutin akan berbeda. Kami belum bisa memverifikasi angka pastinya, dan kamu sebaiknya menunggu hasil uji dari reviewer yang sudah memakai perangkat ini minimal seminggu.
Ini salah satu fitur yang paling masuk akal untuk target pengguna Ultra2. Tingkat kecerahan 5.000 nit membuat layar tetap terbaca di bawah sinar matahari langsung—masalah yang sering dialami pemakai smartwatch saat lari pagi atau mendaki. Untuk aktivitas outdoor intensif, ini bukan sekadar angka gimmick, tapi kebutuhan fungsional.
Sayangnya, bahan rilis tidak menyebutkan tingkat kecerahan untuk Galaxy Watch9. Jika kamu lebih sering berada di dalam ruangan, ini mungkin tidak masalah. Tapi untuk pengguna yang aktif di luar ruangan, perbedaan ini bisa jadi pertimbangan.
Fitur Trail Run eksklusif di Ultra2 memberikan data elevasi, progres pendakian, dan total jarak tanjakan secara real-time. Ini jelas ditujukan untuk pelari trail dan pendaki yang butuh informasi medan, bukan sekadar jarak dan pace. Hydration Guidance yang terintegrasi dengan Nutrition Alert juga relevan untuk olahraga durasi panjang—sistem menghitung kebutuhan cairan berdasarkan aktivitas.
Keduanya fitur yang berguna, tapi perlu diingat: akurasi data elevasi dan estimasi kebutuhan cairan sangat bergantung pada sensor dan algoritma. Kami belum bisa menilai akurasinya tanpa pengujian langsung di lapangan.
Galaxy Watch Ultra2 punya sertifikasi EN13319 untuk penyelaman, ketahanan air 10ATM, dan rating IP69K. Ada juga pemantauan penyelaman otomatis yang merekam kedalaman, durasi, dan suhu air. Ini spesifikasi yang solid untuk smartwatch.
Tapi fitur canggih hasil kolaborasi dengan Mares—termasuk informasi kecepatan naik/turun real-time dan waktu dekompresi—baru tersedia pada akhir 2026 dan butuh unduhan aplikasi terpisah. Artinya, saat kamu membeli Ultra2 sekarang, kamu hanya mendapat fitur selam dasar. Jika kebutuhanmu adalah penyelaman serius dengan data dekompresi, fitur ini belum bisa diandalkan dalam waktu dekat.
Keputusan akhirnya kembali ke kebutuhanmu. Kalau kamu pelari trail atau penyelam rekreasional yang butuh smartwatch tangguh dengan layar super terang, Ultra2 adalah kandidat kuat. Kalau kamu hanya butuh pendamping kesehatan harian yang nyaman dipakai sepanjang hari, Watch9 dengan baterai lebih besar dan chipset baru sudah cukup. Tapi untuk keduanya, kami sarankan menunggu hasil review jangka panjang sebelum memutuskan—terutama soal daya tahan baterai di dunia nyata dan akurasi fitur-fitur barunya.