JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berlanjut. Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah ditutup melemah ke posisi Rp 17.877 per dolar AS, sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga ikut terdepresiasi ke level Rp 17.876 per dolar AS. Kondisi ini turut dirasakan di Jambi, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor dan masyarakat yang bertransaksi dalam dolar.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengungkapkan bahwa pergerakan mata uang Garuda saat ini masih dibayangi oleh dinamika geopolitik global. Fokus utama pasar tertuju pada kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum mencapai titik final.
Rully menjelaskan bahwa hasil negosiasi kedua negara tersebut akan menentukan arah harga minyak dunia. "Perkembangan negosiasi antara AS dan Iran akan mempengaruhi harga minyak," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi momok. Sputnik melaporkan Iran mengajukan sejumlah syarat kepada AS melalui mediator untuk membuka kembali Selat Hormuz. Syarat tersebut mencakup penghentian agresi di seluruh kawasan, termasuk Lebanon dan Palestina, serta pengembalian aset yang dibekukan.
Namun, seperti diberitakan Anadolu, Teheran dan Washington belum mencapai kesepakatan final. Situasi ini membuat penutupan Selat Hormuz terus mengganggu rantai pasokan energi global, yang pada akhirnya berimbas pada stabilitas nilai tukar negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga memilih bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada malam hari ini. Data tersebut akan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) ke depan.
Kebijakan The Fed yang cenderung hawkish dapat memperkuat dolar AS dan semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di tengah tekanan eksternal, ada secercah sentimen positif dari dalam negeri. Risiko ketidakpastian domestik disebut sedikit berkurang setelah Presiden RI Prabowo Subianto menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).
Langkah ini mendapat respons baik dari pasar. "Respons pasar cukup baik dan sosok yang diterima pasar dengan komitmen yang jelas pada program stabilitas rupiah yang berkelanjutan," ungkap Rully.
Penunjukan tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian arah kebijakan moneter dan menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang, meskipun tantangan global masih membayangi pergerakan rupiah di berbagai daerah, termasuk Jambi.