JAMBI — Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko memastikan posisi gajah saat ini aman, namun pihaknya tidak mengendurkan kewaspadaan. "Posisi gajah saat ini aman, namun kami tidak mengendurkan kewaspadaan dan tetap melakukan patroli rutin," kata Himawan di Jambi, Selasa.
Kebakaran sebelumnya terjadi di area penggunaan lain yang menjadi lokasi kawanan gajah mencari makan. Beruntung, petugas yang sedang berpatroli mendeteksi api lebih awal dan langsung melakukan pemadaman dini.
Himawan menjelaskan, saat kejadian timnya langsung berkoordinasi dengan Daops Tebo, BPBD, dan pihak PT LAJ untuk memadamkan api. "Kebakaran kemarin kebetulan gajah berada di sekitar lokasi itu (kebakaran), sedang mencari makan, ada kejadian api. Karena kita sedang melakukan patroli, kita coba upaya pemadaman dini," ungkapnya.
Pelaksana harian komandan satgas karhutla Provinsi Jambi, Brigjen TNI Nyamin, membenarkan peristiwa tersebut. Ia memastikan titik api tidak berada di kawasan inti Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Kebakaran hanya melanda semak belukar dan sebagian lahan yang sudah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Meski api telah padam, BKSDA Jambi menyoroti kerentanan di wilayah utara bentang alam Bukit Tigapuluh. Kawasan ini rawan terbakar akibat aksi perambahan liar oleh oknum masyarakat, meski berada di luar jalur jelajah utama gajah.
Untuk memantau potensi karhutla, BKSDA Jambi memanfaatkan aplikasi SiPongi dan penerbangan pesawat tanpa awak (drone). Koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan juga terus diperkuat untuk menjaga habitat gajah dari ancaman kebakaran.
Brigjen TNI Nyamin menegaskan timnya tersebar di seluruh wilayah untuk merespons cepat kemunculan titik api. "Tim kita tersebar diseluruh wilayah, jadi kalau terjadi titik api (kebakaran), tim kita langsung turun langsung melakukan pemadaman," ujarnya.
Ia memastikan tidak ada satwa dilindungi yang menjadi korban atau terganggu akibat kebakaran kali ini. Kesigapan petugas disebut menjadi kunci utama dalam mencegah api meluas ke kawasan konservasi gajah Sumatera.