Kabut Asap Karhutla Selimuti Kota Jambi, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

Penulis: Hamzah Effendi  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 17:07:32 WIB
Kabut asap karhutla menyelimuti permukiman di tepi Sungai Batanghari, Kota Jambi.

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti kawasan permukiman di tepi Sungai Batanghari, Kota Jambi, dan membuat kualitas udara setempat masuk kategori berbahaya. Pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menunjukkan kondisi udara di kota itu berada pada level terburuk yang memicu risiko kesehatan bagi warga.

JAMBI — Kabut asap pekat menyelimuti kawasan permukiman di tepi Sungai Batanghari, Kota Jambi. Pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menempatkan kualitas udara di kota itu pada kategori berbahaya. Kondisi tersebut terekam dalam foto udara yang memperlihatkan bangunan dan permukiman warga tertutup lapisan asap.

Kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah titik di Provinsi Jambi. Asap terbawa angin hingga ke kawasan permukiman padat penduduk di sepanjang tepi sungai terbesar di provinsi itu.

Kategori berbahaya pada ISPU menandakan konsentrasi partikel pencemar di udara telah melewati ambang batas aman bagi kesehatan manusia. Warga yang beraktivitas di luar ruangan berisiko mengalami gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga infeksi saluran pernapasan akut.

Apa Dampak Kabut Asap bagi Warga Kota Jambi?

Kabut asap membatasi jarak pandang di sejumlah ruas jalan dan permukiman. Aktivitas warga di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan, berpotensi terganggu.

Kualitas udara yang masuk kategori berbahaya umumnya mendorong imbauan agar warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat terpaksa keluar rumah. Sekolah dan perkantoran di kawasan terdampak juga berisiko menyesuaikan jadwal kegiatan.

Pemerintah daerah biasanya merespons kondisi ini dengan menyiapkan layanan kesehatan tambahan, seperti posko oksigen dan pemeriksaan pernapasan gratis di puskesmas. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan pasien dengan keluhan ISPA.

Mengapa Karhutla Kembali Melanda Jambi?

Kebakaran hutan dan lahan di Jambi berulang terjadi pada periode kemarau. Faktor pemicunya beragam, mulai dari pembukaan lahan dengan cara membakar hingga kondisi gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Asap dari titik-titik panas di kawasan gambut dapat bertahan lama dan menyebar jauh. Arah angin menentukan wilayah mana yang terdampak paling parah, termasuk kawasan permukiman di tepi Sungai Batanghari.

Upaya pemadaman darat dan udara biasanya dikerahkan untuk menekan titik api. Namun, lahan gambut yang terbakar di bawah permukaan membuat api kerap muncul kembali meski permukaan sudah disemprot air.

Langkah Apa yang Perlu Diantisipasi Warga?

Warga diimbau memantau perkembangan kualitas udara secara berkala. Informasi ISPU menjadi acuan untuk menentukan apakah aktivitas di luar ruangan aman dilakukan.

Saat kualitas udara berbahaya, penggunaan masker jenis N95 atau masker yang mampu menyaring partikel halus lebih dianjurkan dibanding masker kain. Ruangan di dalam rumah sebaiknya ditutup rapat dan penggunaan penjernih udara membantu menekan paparan partikel.

Bagi warga yang mengalami keluhan sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih karena risiko komplikasi yang lebih tinggi.

Pemerintah daerah dan instansi terkait terus memantau titik panas serta kualitas udara. Perkembangan kondisi kabut asap akan menentukan apakah status darurat atau penyesuaian aktivitas publik perlu diberlakukan.

Reporter: Hamzah Effendi
Sumber: jambi.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top