JAMBI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan sedang hingga sangat lebat disertai angin kencang di 15 wilayah Indonesia pada Minggu (11/10/2026). Peringatan ini muncul di tengah dominasi cuaca kering yang dipicu El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole positif. Meski secara umum atmosfer cenderung kering, dinamika regional dan lokal tetap membuka peluang hujan signifikan di sejumlah daerah.
BMKG mencatat pada Dasarian I Oktober 2026, sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah 0-50 mm per dasarian. Hanya 19,99 persen wilayah yang masuk kategori menengah 50-150 mm, dan 0,36 persen kategori tinggi 150-300 mm.
Dominasi curah hujan rendah menandakan kondisi kering masih berpotensi berlanjut. Wilayah yang sebelumnya mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan perlu mewaspadai risiko kekeringan.
BMKG merilis 15 provinsi yang diprediksi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat pada Minggu (11/10/2026). Sumatra Utara menjadi satu-satunya wilayah dengan prediksi hujan lebat hingga sangat lebat.
Wilayah tersebut meliputi:
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Selatan.
Selain hujan lebat, BMKG memperingatkan potensi angin kencang di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Kedua wilayah ini perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak angin kencang yang menyertai hujan.
Kondisi atmosfer Indonesia masih dipengaruhi fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada Dasarian II Oktober 2026. Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut menghambat pertumbuhan awan hujan dan mengurangi pasokan kelembapan.
"Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut cenderung menghambat pertumbuhan awan hujan dan mengurangi pasokan kelembapan di sebagian wilayah Indonesia," kata BMKG dalam keterangannya, Kamis (8/10).
Meski demikian, BMKG mencatat aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau di sebagian kecil Kalimantan Utara. Zona perlambatan dan pertemuan angin diprakirakan terbentuk di Sumatra, Jawa bagian Barat, Kalimantan, dan Papua.
Suhu muka laut yang relatif hangat turut mendukung peningkatan kelembapan dan pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah. Kondisi ini yang memicu hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang.
Memasuki Dasarian II Oktober 2026, BMKG memprediksi sekitar 66,09 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah 0-50 mm per dasarian. Kategori menengah 50-150 mm diprakirakan terjadi di 32,67 persen wilayah, sedangkan kategori tinggi 150-300 mm hanya 1,24 persen.
Artinya, meski kondisi kering masih mendominasi, peluang hujan tetap terbuka di sejumlah wilayah akibat pengaruh dinamika atmosfer regional dan lokal. Masyarakat di daerah yang masuk daftar peringatan diminta waspada terhadap potensi hujan lebat, kilat, petir, dan angin kencang.