JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai mereda. Pada perdagangan Kamis pagi, mata uang Garuda menguat 22 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.911 per dolar AS, berbalik dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.933 per dolar AS.
Penguatan ini utamanya didorong oleh faktor eksternal. Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan setelah muncul sinyal kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Harga Minyak WTI Anjlok dari 86 ke 74,60 Dolar AS
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak menjadi katalis utama penguatan rupiah. Sejak Senin (3/8), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang pekan lalu masih bertengger di level 86 dolar AS per barel, kini sudah turun drastis ke posisi 74,60 dolar AS per barel.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali," ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Pelayaran
Mengutip Anadolu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa Washington dan Teheran berpotensi mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan itu disebut akan menjamin kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal komersial, dengan tenggat waktu yang dikabarkan pada Selasa atau Rabu (5/8) waktu setempat.
Dalam perjanjian tersebut, AS disebut memberikan izin bagi Iran untuk menarik tarif tol di jalur perairan strategis itu. Sebelumnya, Iran menegaskan bahwa pelayaran di perairan lepas pantainya harus berada di bawah pengawasan Iran.
PDB Kuartal II-2026 Tumbuh 5,29 Persen, di Atas Ekspektasi
Dari sisi domestik, sentimen positif juga datang dari data pertumbuhan ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen (year on year/yoy) pada triwulan II-2026.
Capaian ini melampaui ekspektasi pelaku pasar yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan hanya akan berada di angka 5,1 persen. Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tercatat mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dari Rp3.396,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kendati demikian, Lukman mengingatkan agar pelaku pasar tidak serta-merta berpuas diri. Menurutnya, data kuartal II yang kuat tidak otomatis menjamin pertumbuhan berkelanjutan ke depan.
"PDB kuartal II yang lebih kuat tidak mengartikan akan kembali kuat ke depannya. Namun, apabila harga minyak turun terus, ini akan meredakan tekanan pada fiskal dan rupiah, dan bisa mendukung pertumbuhan ke depannya," kata Lukman.
Prediksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Berdasarkan kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah pada hari ini akan berkisar di rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Level psikologis Rp18.000 masih menjadi batas bawah yang krusial untuk dijaga.