JAMBI — Warga Jambi yang beraktivitas di luar rumah pada Selasa pagi disarankan memakai masker. Data pemantauan kualitas udara dari IQAir pada pukul 07.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 77,5 µg/m³, angka yang menempatkan kualitas udara kota ini pada level "Tidak Sehat" dengan indeks AQI 166.
Angka tersebut merupakan akumulasi pantauan dari dua stasiun pemantauan yang datanya bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Konsentrasi PM2.5 yang terdeteksi pagi ini hampir 15 kali lipat dari panduan kualitas udara tahunan WHO yang menetapkan ambang batas aman di angka 5 µg/m³.
Pukul Berapa Indeks Kualitas Udara Mulai Membaik?
Meski pagi hari berada di level tidak sehat, data prakiraan per jam dari IQAir menunjukkan adanya tren penurunan secara bertahap sepanjang hari. Pada pukul 08.00 WIB, indeks diperkirakan turun ke angka 160 dan terus melandai menjadi 154 pada pukul 09.00 WIB.
Memasuki siang hari, penurunan diprediksi berlanjut. Indeks kualitas udara diperkirakan mencapai 148 pada pukul 10.00 WIB, lalu turun ke 142 pada pukul 11.00 WIB, dan menyentuh angka 136 pada pukul 12.00 WIB. Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas ambang batas kategori sedang yang berkisar di bawah 100.
Faktor Cuaca yang Memperparah Polusi Udara
Kondisi atmosfer turut memengaruhi akumulasi polutan di permukaan. Pada saat pemantauan, suhu udara di Jambi tercatat sekitar 23 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 85 persen. Kecepatan angin yang rendah, hanya sekitar 4 kilometer per jam, membuat partikel polutan sulit terdispersi dan cenderung terperangkap di dekat permukaan tanah.
Kelembapan tinggi yang disertai angin lemah pada pagi hari umumnya menciptakan lapisan inversi suhu. Fenomena ini membuat udara dingin di permukaan terperangkap oleh udara hangat di atasnya, sehingga polutan dari aktivitas kendaraan dan industri tidak bisa naik ke atmosfer.
Langkah yang Perlu Dilakukan Warga Saat AQI Tidak Sehat
Pada level kualitas udara seperti ini, kelompok sensitif—termasuk anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan—berisiko mengalami iritasi mata, batuk, hingga sesak napas. IQAir merekomendasikan agar kelompok tersebut mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan menggunakan masker berstandar N95 jika harus keluar rumah.
Warga juga disarankan menutup jendela rumah pada pagi hari dan menyalakan alat pembersih udara (air purifier) bila tersedia. Data ini bersifat pemantauan langsung sehingga angka AQI dan konsentrasi polutan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika cuaca dan aktivitas masyarakat sepanjang hari.