JAKARTA — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih betah di zona merah pada penutupan perdagangan Selasa. Indeks acuan tersebut terpangkas hingga 1,53 persen ke level 6.267,88, sementara indeks LQ45 yang menjadi barometer saham unggulan ikut terkoreksi 1,32 persen ke posisi 625,79.
Sepanjang hari, IHSG sempat dibuka menguat, namun tekanan jual langsung mendominasi hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, laju indeks tak kunjung membaik dan terus berada di teritori negatif sampai bel berbunyi.
Pasar Menanti Keputusan MSCI pada 12 Agustus 2026
Para pelaku pasar tampak memilih bermanuver hati-hati dengan menunggu hasil tinjauan indeks MSCI yang akan diumumkan pada 12 Agustus 2026 pukul 23.00 waktu Central European Summer Time (CEST), atau bertepatan dengan 13 Agustus 2026 dini hari pukul 04.00 WIB.
"Pelaku pasar tampaknya cenderung menantikan tinjauan rebalancing MSCI bulan Agustus yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Hasil tinjauan itu akan memuat daftar saham yang masuk (addition) dan keluar (deletion) dari jajaran indeks global. Perubahan tersebut baru akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.
Reformasi Pasar Modal dan Katalis dari Calon Gubernur BI
Dari dalam negeri, pasar berharap langkah reformasi yang dilakukan regulator di pasar modal domestik bisa membuka peluang bagi MSCI untuk segera mencabut status pembekuan (freeze) saham Indonesia dalam tinjauan indeks periode Agustus 2026. Kepastian ini dinilai krusial bagi arus dana asing masuk ke pasar saham Tanah Air.
Di sisi lain, perkembangan politik moneter turut menjadi perhatian. Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) mendapat respons positif dari pasar. Nico menilai pengalaman Destry di BI dapat menjaga kesinambungan kebijakan moneter pasca pengunduran diri Perry Warjiyo, terutama dalam menstabilkan nilai tukar rupiah dan inflasi. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga independensi BI sembari mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah.
Ketegangan Timur Tengah dan Suku Bunga Global Bayangi Bursa Asia
Dari mancanegara, bursa saham kawasan Asia ditutup beragam. Tekanan datang dari meredupnya harapan perdamaian di Timur Tengah setelah negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump menyerukan Iran memberikan kompensasi atas korban jiwa, sementara Teheran menuntut hal serupa atas serangan AS dan Israel.
Ketidakpastian ini mendorong harga minyak mentah dunia naik, memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi dan suku bunga global yang ketat. Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, bahkan mengisyaratkan perlunya kenaikan suku bunga lanjutan untuk menekan inflasi kembali ke target 2 persen.
"Ketidakpastian tetap ada mengenai potensi kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, membuat pasar waspada terhadap inflasi dan prospek suku bunga," imbuh Nico.
Sebelas Sektor Terkoreksi, Frekuensi Transaksi Capai 2,16 Juta Kali
Dari data BEI, seluruh sebelas sektor saham kompak terpantau di zona merah. Sektor industri menjadi yang paling tertekan dengan koreksi mencapai 3,09 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer yang anjlok 2,56 persen dan 2,41 persen.
Adapun saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain CSMI, STAR, YPAS, FAST, dan KJEN. Sebaliknya, pelemahan terdalam dialami oleh saham IKBI, SULI, BAIK, GMFI, dan TALK.
Total frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.163.000 kali transaksi. Jumlah saham yang berpindah tangan mencapai 34,01 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp14,48 triliun. Sebanyak 148 saham berhasil naik, 567 saham melemah, dan 248 saham stagnan.
Sementara itu, bursa regional Asia sore ini menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Nikkei melonjak 2,08 persen, Kospi menguat 0,73 persen, dan Straits Times naik 0,84 persen. Namun, indeks Shanghai dan Hang Seng masing-masing terkoreksi 0,82 persen dan 1,10 persen.