KERINCI — Lahan seluas 0,125 hektare di Desa Tanjung Bungo resmi menjadi titik awal penanaman bawang putih serentak di Provinsi Jambi. Gubernur Al Haris memimpin langsung kegiatan tersebut didampingi Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno H Siregar, Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Nyamin, Bupati Kerinci Monadi, dan Wali Kota Sungai Penuh Alfin.
Penanaman ini merupakan bagian dari program nasional yang digelar di 17 provinsi. Setelah menanam secara simbolis, rombongan mengikuti zoom bersama pusat kegiatan di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang dihadiri Kapolri, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, Menko Pangan Zulkifli Hasan, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Target 110 Hektare dan Upaya Perluasan Lahan
Provinsi Jambi mendapat jatah penanaman bawang putih seluas 110 hektare. Rinciannya, 100 hektare berada di Kabupaten Kerinci dan 10 hektare di Kabupaten Merangin, tepatnya di Kecamatan Jangkat.
Kapolda Jambi menyebut angka tersebut masih berpeluang bertambah. Pihaknya bersama TNI dan pemerintah daerah terus mencari lahan tambahan. "Kami sedang berupaya supaya Jambi bisa lebih dari target untuk luasannya. Tentunya dengan ketersediaan bibit. Ini merupakan salah satu kendala," ujar Krisno.
Untuk penanaman perdana di Merangin, lahan yang digunakan mencapai 0,25 hektare. Pemprov Jambi berencana mengajukan permintaan tambahan bibit ke Kementerian Pertanian agar program ini bisa diperluas.
Mengapa Bawang Putih Menjadi Prioritas?
Al Haris menjelaskan bahwa ketergantungan impor bawang putih selama ini menjadi beban ekonomi yang nyata. Fluktuasi harga komoditas ini langsung berdampak pada inflasi daerah.
"Setiap tahun besar sekali impor kita. Ini juga berpengaruh kepada angka inflasi. Begitu bawang putih naik harganya, sangat berdampak pada inflasi kita," kata Al Haris.
Melalui program ini, pemerintah ingin memutus rantai ketergantungan tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani setempat.
Dukungan Lahan, Bibit, dan Alsintan
Pemprov Jambi tidak hanya menyiapkan lahan. Pemerintah juga berkoordinasi dengan PTPN VI untuk memperluas area tanam serta menyiapkan kebutuhan bibit dan alat mesin pertanian (alsintan).
Langkah ini diharapkan membuat petani tidak lagi bergantung pada satu komoditas. "Kalau bibitnya bagus dan hasilnya baik, ini bisa menjadi contoh untuk daerah lain. Petani kita tidak hanya bergantung pada cabai, tetapi juga bisa menanam bawang putih yang bisa dijual di pasar," ujarnya.
Al Haris optimistis Jambi ke depan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan bawang putih lokal, tetapi juga menjadi salah satu penyumbang produksi nasional. Program ini dinilai sebagai peluang strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi pedesaan.