JAMBI — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi resmi menggandeng Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan Forum Film Jambi (FFJ) untuk membangun ekosistem perfilman yang berakar dari komunitas pelajar. Kerja sama ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya sineas-sineas muda berbakat yang mampu mengangkat potensi lokal ke panggung nasional.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Provinsi Jambi, Imron Rosiadi, menilai antusiasme kreator muda di daerahnya sudah sangat tinggi. Meski standar produksi film pendek yang dihasilkan masih perlu dipoles, semangat tersebut dinilai sebagai modal kuat bagi industri perfilman di Jambi.
Pelajar Jambi Mulai Produksi Film Pendek
"Saya lihat sudah mulai muncul film-film pendek di Jambi, perkembangannya cukup bagus, kita coba dorong agar ke depan pelajar dan anak-anak muda bisa berkarya melalui film," ujar Imron di Jambi, Rabu.
Perkembangan positif ini dinilai menjadi langkah baik karena para pelajar sudah mampu menyusun cerita serta mengemasnya dalam bentuk visual. Ke depan, Pemprov Jambi berkomitmen mengambil peran dalam mendorong kompetisi dan memberikan motivasi untuk menggairahkan dunia perfilman di daerah.
BPI: Perfilman Daerah Jadi Prioritas Nasional
Ketua Umum BPI, Fauzan Zidni, menegaskan komitmennya mendukung pengembangan ekosistem perfilman daerah. Ia menyebut isu perfilman berbasis daerah saat ini menjadi salah satu prioritas utama BPI di tingkat nasional.
"BPI menganggap pembangunan ekosistem film di daerah menjadi salah satu isu prioritas, kita akan mendukung pengembangan film lokal," tegas Fauzan.
Dukungan tersebut juga melibatkan komunitas Festival Film Jambi, Lingkar Film Sumatra, dan Cinema Kajang Lako. Sinergi antarpegiat film ini diharapkan mampu melahirkan karya berkualitas dari bumi Melayu Jambi.
Film "Melayu Dulu, Kini dan Nanti" Meriahkan HUT ke-81 RI
Sebagai langkah awal, Forum Film Jambi telah menyiapkan film pendek bertema "Melayu dulu, kini dan nanti". Film ini rencananya akan diputar dalam rangka memeriahkan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di daerah setempat pada Rabu malam.
Ketua FFJ, Untung Wijaya, mengatakan tema tersebut dipilih untuk mengangkat akar sejarah dan tradisi Melayu. Para sineas diharapkan mampu merekam dan memotret nilai-nilai sejarah, lalu menghubungkannya dengan konteks kehidupan masa kini.
"Melalui tema ini, kita mencoba mengangkat akar sejarah dan tradisi Melayu, menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan konteks kehidupan masa kini," kata Untung.
Imron menambahkan, Jambi memiliki banyak bahan cerita lokal yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Menurutnya, tugas bersama adalah bagaimana mengemas cerita-cerita tersebut agar memiliki daya tarik bagi penonton luas.
"Kita banyak bahan cerita lokal yang menarik. Tugas kita bersama-sama bagaimana mengemas cerita agar memiliki daya tarik," ujarnya.
Keterlibatan pemerintah bersama BPI dan FFJ diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Target jangka panjangnya, sineas lokal Jambi mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.