Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat ini masih bertahan di level Rp17.748 per dolar AS, sama seperti penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan yang cenderung datar ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026 yang dijadwalkan keluar hari ini oleh Bank Indonesia.
JAKARTA — Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 akan melebar signifikan hingga 3,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melonjak tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat 1,09 persen terhadap PDB.
Pelebaran defisit itu disebutnya didorong oleh dua faktor utama. Pertama, peningkatan musiman pada arus keluar pendapatan primer, khususnya pembayaran imbal hasil atas aset domestik kepada investor asing atau non-residen.
Defisit Perdagangan Menjadi Pendorong Utama
Faktor kedua yang membebani adalah memburuknya kinerja neraca barang. Hal ini seiring dengan tercatatnya defisit perdagangan pada Mei dan Juni 2026, yang menekan posisi mata uang Garuda di pasar keuangan.
“Bank Indonesia dijadwalkan merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2Q26 hari ini,” ucap Josua kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Sentimen Eksternal dari Kebijakan Buyback AS
Di sisi lain, pasar juga mencermati pengumuman program pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah AS berjangka panjang. Operasi ini bertujuan menurunkan imbal hasil obligasi jangka panjang yang sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam 20 bulan pada tenor 10 tahun.
Menurunnya imbal hasil obligasi AS otomatis membuat dolar AS menjadi kurang menarik bagi investor global. Kondisi ini dinilai mampu memberikan ruang bagi penguatan nilai tukar rupiah meski tekanan domestik masih membayangi.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Berdasarkan kombinasi faktor internal dan eksternal tersebut, Josua memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.825 per dolar AS. Ia menilai pasar akan lebih banyak menanti data NPI sebelum menentukan arah selanjutnya.
Data NPI sendiri menjadi indikator penting bagi investor untuk mengukur ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Jika angka defisit sesuai perkiraan, tekanan terhadap rupiah berpotensi tetap terkendali dalam jangka pendek.