Pencarian

BPH Migas Catat Konsumsi Pertalite di Indonesia Naik 12,92 Persen Usai Harga Pertamax Naik, Ini Datanya

Kamis, 27 Agustus 2026 • 01:40:01 WIB
BPH Migas Catat Konsumsi Pertalite di Indonesia Naik 12,92 Persen Usai Harga Pertamax Naik, Ini Datanya
Konsumsi Pertalite tercatat naik 12,92 persen menjadi 85.589 kiloliter per hari pada Juli 2026 setelah harga Pertamax mengalami kenaikan.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi Pertalite melonjak hingga 85.589 kiloliter (KL) per hari pada Juli 2026, naik 12,92 persen dibandingkan rata-rata penyaluran sebelum kenaikan harga Pertamax. Lonjakan ini terjadi sebulan setelah harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026.

JAKARTA — Kenaikan harga Pertamax pada Juni lalu terbukti menggeser preferensi konsumen ke Pertalite. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas memaparkan, rata-rata penyaluran Pertalite sebelum penyesuaian harga hanya 75.795 KL per hari, namun langsung meroket menjadi 82.760 KL per hari pada 10 Juni 2026.

Data tersebut disampaikan Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang dipantau dari Badung, Bali, Rabu. Ia menjelaskan bahwa perpindahan konsumsi ini merupakan dampak langsung dari perubahan harga di tingkat konsumen.

Lonjakan Berlanjut di Juli, Koreksi di Agustus

Puncak konsumsi Pertalite terjadi pada Juli 2026 dengan rata-rata 85.589 KL per hari. Angka ini lebih tinggi 9.794 KL per hari jika dibandingkan dengan periode sebelum harga Pertamax naik.

Memasuki Agustus, konsumsi Pertalite sedikit terkoreksi ke kisaran 84.368 KL per hari. Wahyudi mengaitkan penurunan ini dengan adanya koreksi harga Pertamax dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter.

“Ini agak sedikit menurun karena harga Pertamax juga ada koreksi. Sehingga, konsumsinya untuk Pertalite juga turun,” ujar Wahyudi dalam paparannya.

Perpindahan Konsumsi dari Pertamax ke Pertalite

Meski turun, rata-rata konsumsi Pertalite pada Agustus masih lebih tinggi dibandingkan periode sebelum kenaikan harga. Hal ini menunjukkan pergeseran konsumsi bersifat permanen, bukan hanya sementara.

“Artinya, kenaikan konsumsi Pertalite yang rata-rata saat ini menjadi 84.368 KL ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite,” jelas Wahyudi.

Fenomena ini menegaskan bahwa harga merupakan faktor dominan bagi konsumen dalam memilih jenis BBM. Ketika selisih harga melebar, mayoritas pengendara cenderung beralih ke produk yang lebih ekonomis meskipun memiliki oktan lebih rendah.

Follow katajambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jambi.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks