JAMBI — Nilai tukar rupiah melemah 0,12% ke Rp17.915 per dolar AS pada perdagangan Kamis (1/10/2026), turun 21 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.894. Pelemahan terjadi saat indeks dolar AS (DXY) bertahan di 101,482, dekat level tertinggi dua bulan, ditopang yield obligasi pemerintah AS yang masih tinggi.
Rupiah sempat menyentuh Rp17.937 per dolar AS pada pukul 10.15 WIB, menyisakan jarak sekitar Rp63 dari level psikologis Rp18.000. Data real-time Investing.com pukul 12.14 WIB menunjukkan USD/IDR bergerak di Rp17.950 dengan rentang harian Rp17.855-Rp17.955, naik 0,67% dari penutupan versi platform tersebut.
Dalam sebulan terakhir, pasangan USD/IDR menguat 1,21%. Rentang 52 minggu berada di Rp16.509,5-Rp18.197,5, dengan titik terendah terjadi pada pertengahan September ketika rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.500.
DXY Bertahan Tinggi, Yield Obligasi AS Jadi Penahan
Indeks dolar AS naik tipis 0,03% ke 101,482 dan berada di dekat level tertinggi dua bulan. Sepanjang September, DXY tercatat menguat sekitar 2%.
Data inflasi PCE AS Agustus yang lebih rendah dari perkiraan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Meski begitu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 dan 30 tahun tetap tinggi akibat kekhawatiran fiskal dan besarnya penerbitan obligasi.
Harga Minyak Turun, Sentimen Positif Terbatas
Harga minyak Brent turun 2,8% ke US$102,35 per barel dan WTI turun 3,8% ke US$89 per barel seiring membaiknya pasokan dari Timur Tengah. Penurunan ini sempat memberi sentimen positif bagi rupiah.
Namun ketegangan di Timur Tengah masih memicu kekhawatiran inflasi global. Faktor ini menahan ruang penguatan rupiah meski harga energi melemah.
Inflasi September 3,28% Jadi Pertimbangan BI
Badan Pusat Statistik mengumumkan inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28% dengan inflasi bulanan 0,30%. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kelompok makanan dan transportasi sebagai pendorong utama inflasi tahunan.
Arah inflasi akan banyak memengaruhi ruang kebijakan moneter Bank Indonesia. BI terus melakukan intervensi melalui pasar spot, DNDF, dan NDF untuk menjaga stabilitas rupiah.
Proyeksi Analis untuk Pergerakan Hari Ini
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak melemah di rentang Rp17.890-Rp17.940 per dolar AS. Ia menilai sentimen dalam negeri turut memengaruhi pergerakan harian rupiah.
Bagi investor, pelemahan rupiah berdampak langsung pada aset berbasis dolar AS. USDT dan USDC yang dirancang mengikuti nilai dolar AS ikut bergerak seiring perubahan kurs, sehingga pemantauan berkala diperlukan sebelum mengambil keputusan investasi.
Pergerakan kurs ke depan akan bergantung pada data ekonomi AS, arah suku bunga The Fed, serta respons BI dalam menjaga stabilitas moneter.