JAMBI — Slate Blank Slate bukan sekadar kendaraan listrik murah. Startup asal Rhode Island ini membawa konsep modular ekstrem: kamu membeli truk polos tanpa fitur, lalu menambahkan aksesori sesuai kebutuhan—mulai dari speaker upgrade hingga konversi bodi menjadi SUV dua baris. Kami mendapat kesempatan menjajal prototipe di jalanan Newport, dan ini kesan awal kami.
Membuka pintu Blank Slate, kamu langsung sadar di mana biaya produksi dipangkas. Hampir semua permukaan di kabin terbuat dari plastik keras—dari panel pintu hingga dasbor. Bahkan sandaran lengan di pintu tidak memiliki bantalan sama sekali. Model yang kami kendarai bahkan tanpa konsol tengah; sebagai gantinya ada baki panjang yang cukup untuk menaruh barang dari saku celana.
Satu-satunya material empuk di kabin hanyalah jok. Headliner-nya terbuat dari bahan yang sama dengan yang biasa dipakai Hollywood untuk rambut palsu—kasar dan tipis. Tapi ada catatan penting: meski polos, kualitas rakitan tidak terasa murahan. Pintu menutup dengan bunyi solid, dan key fob-nya terasa lebih premium daripada beberapa mobil yang harganya dua kali lipat.
Blank Slate ditenagai motor listrik 181 dk yang menggerakkan roda belakang, disuplai baterai 63 kWh. Awalnya pabrikan mengumumkan paket 45 kWh dengan jarak tempuh 150 mil, tapi kini estimasi internal berubah menjadi 205 mil (sekitar 330 km) berkat baterai yang lebih besar.
Untuk ukuran mobil dengan bobot yang diperkirakan mulai dari 4-an (ratusan kg), tenaga ini terasa cukup lincah di dalam kota. Akselerasi dari lampu merah terasa responsif, dan saat kosong, kamu bahkan bisa membuat roda belakang selip jika terlalu agresif. Namun tenaganya mulai "habis" saat kecepatan sudah menyamai arus lalu lintas jalan tol—top speed dibatasi elektronik di 90 mph (sekitar 145 km/jam).
Ada perubahan spesifikasi yang perlu kamu tahu. Slate awalnya menjanjikan charging hingga 120 kW, tapi setelah penyesuaian manajemen termal, angka itu turun menjadi 90 kW. Dengan baterai yang relatif kecil, waktu DC fast charging seharusnya tetap wajar. Tapi perlu dicatat: target pasar mobil ini adalah orang yang mungkin tinggal di apartemen atau tidak punya fasilitas charging di rumah, jadi ketergantungan pada Supercharger umum bisa jadi tinggi.
Perjalanan kami hanya sekitar 30 menit di jalanan Newport saat jam pulang kerja. Suspensinya terasa cukup empuk—tidak ada hentakan kasar saat melewati polisi tidur, dan kabin tidak berisik berlebihan. Bentuknya yang kecil membuat parkir dan bermanuver di jalan sempit terasa mudah, kontras dengan dominasi SUV tiga baris di jalanan Amerika.
Kritik terbesar kami soal visibilitas. Pilar B (tiang tengah) tebal dan menciptakan blind spot yang cukup signifikan jika kamu mengandalkan putaran kepala daripada spion samping. Angin juga cukup berisik di sekitar pilar A dan spion saat kecepatan tinggi, konsekuensi dari desain bodi yang kotak dan kaku.
Seperti Rivian, Slate mengunci sistem one-pedal driving secara permanen—bahkan saat mundur. Kabar baiknya, deselerasi terasa halus dan mudah dimodulasi. Tapi ada satu hal yang perlu diwaspadai: pedal rem terasa "potong" di bagian akhir, yang mungkin butuh waktu untuk dibiasakan.
Blank Slate adalah jawaban berani untuk pasar yang lelah dengan harga mobil yang terus meroket. Di atas kertas, konsep modularnya cerdas: bayar hanya untuk apa yang kamu butuhkan. Tapi setelah 30 menit di belakang kemudi, kami sadar bahwa "polos" di sini berarti mengorbankan hampir semua kenyamanan yang sudah dianggap standar di mobil modern.
Untuk kamu yang tinggal di perkotaan, punya akses charging di rumah, dan mencari kendaraan kedua yang murah untuk harian—ini bisa jadi pilihan menarik. Tapi untuk keluarga yang butuh satu mobil untuk semua kebutuhan, atau kamu yang sering perjalanan jauh, ada baiknya menunggu hasil uji lebih lanjut setelah versi produksi final diluncurkan pada kuartal keempat tahun ini. Kami juga penasaran bagaimana rasanya setelah dikonversi menjadi SUV dua baris—apakah wind noise tetap sama atau justru berubah.