JAMBI — Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) yang dirilis pekan ini menunjukkan sinyal pemulihan bertahap di sektor properti residensial. Meski penjualan secara nasional masih berada di zona negatif, laju kontraksinya melambat jauh dibandingkan kuartal II-2025 yang sempat anjlok hingga 25,67%.
Dari sisi harga, BI mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) berada di level 110,89 pada kuartal II-2026, tumbuh 0,69% secara tahunan. Laju kenaikan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 0,62%, namun tetap berada dalam kisaran terbatas.
Pemulihan penjualan tidak merata di semua segmen. Kategori rumah tipe besar menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan penjualan 13,08% secara tahunan, berbalik tajam dari posisi terkontraksi 8,03% pada kuartal II-2025.
Segmen rumah tipe kecil juga menunjukkan perbaikan, dengan kontraksi yang menyempit ke -2,88% secara tahunan dibandingkan -45,59% pada periode yang sama tahun lalu. Kondisi berbeda terjadi pada rumah tipe menengah yang justru terkontraksi -10,51% secara tahunan, setelah sebelumnya sempat tumbuh 8,28% pada kuartal II-2025.
Dari sisi indeks harga, rumah tipe menengah mencatat pertumbuhan tertinggi di level 0,83% secara tahunan, meski sedikit melambat dari 0,88% pada kuartal sebelumnya. Indeks harga tipe ini berada di posisi 114,01, level tertinggi dibandingkan segmen lainnya.
Sementara itu, kenaikan harga rumah tipe besar justru mengalami akselerasi menjadi 0,68% secara tahunan dari 0,5% pada kuartal I-2026. Sebaliknya, rumah tipe kecil mencatat perlambatan pertumbuhan harga menjadi 0,49% secara tahunan, turun dari 0,61% pada kuartal sebelumnya.
Dari 18 kota yang disurvei BI, sebanyak 10 kota mencatatkan peningkatan pertumbuhan harga rumah secara tahunan, 7 kota mengalami penurunan pertumbuhan, dan 1 kota relatif stabil. Banjarmasin menjadi sorotan dengan kenaikan harga rumah 1,29% secara tahunan, meningkat dari 0,52% pada kuartal I-2026.
Pekanbaru juga mencatat perbaikan signifikan, dengan pertumbuhan harga 3,23% secara tahunan, berbalik dari posisi terkontraksi -0,03% pada kuartal sebelumnya. Di sisi lain, Padang dan Balikpapan mengalami perlambatan masing-masing menjadi 0,63% dan 1,19% secara tahunan.
Perbaikan penjualan yang diiringi kenaikan harga yang terbatas ini menunjukkan bahwa pengembang masih berhati-hati dalam menaikkan harga di tengah tekanan daya beli masyarakat. Para pelaku usaha properti diperkirakan akan terus mengandalkan segmen rumah besar yang menunjukkan permintaan paling sehat, sementara segmen menengah perlu stimulus tambahan untuk mendorong akselerasi.