JAMBI — Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sering hanya tersimpan rapi di tas tanpa pernah dibuka, padahal isinya memuat panduan lengkap kehamilan hingga tumbuh kembang balita. Simak cara memanfaatkan buku KIA sesuai usia kehamilan dan alasan mengapa buku ini penting jadi rujukan keluarga.
Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sering diperlakukan sekadar sebagai dokumen pemeriksaan yang harus dibawa ke puskesmas atau bidan. Padahal, di dalamnya tersimpan informasi lengkap soal kehamilan, persalinan, sampai pemantauan tumbuh kembang anak.
Akademisi Program Studi Kebidanan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Irma Nurma Linda, menyoroti masih banyaknya buku KIA yang tidak diisi atau kurang dimanfaatkan pemiliknya. Menurutnya, buku ini bisa jadi sumber informasi utama bagi ibu dan keluarga.
"Buku KIA itu adalah sumber ilmu semuanya, dari proses kehamilan, kemudian setelah bersalin, bayi, balita, di sana semuanya ada," kata Irma dalam dialog kesehatan di Pro 1 RRI Singaraja, Jumat, 18 September 2026.
Buku KIA dirancang mengikuti tahapan kehamilan. Pada masa awal, ibu bisa mempelajari tanda bahaya kehamilan, kebutuhan nutrisi, aktivitas yang aman, hingga jadwal pemeriksaan rutin.
Setelah persalinan, isinya beralih ke panduan perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi, dan pemantauan pertumbuhan balita. Semua informasi ini disusun bertahap sesuai usia anak.
Karena itu, membaca buku KIA tidak cukup sekali di awal kehamilan. Ibu perlu membukanya kembali di setiap tahap, sesuai usia kehamilan atau usia anak saat itu.
Irma mengingatkan ibu hamil agar tidak menganggap kehamilan berikutnya selalu sama dengan pengalaman sebelumnya. Setiap kehamilan punya kondisi berbeda dan tetap memerlukan pemantauan tenaga kesehatan.
Hal yang perlu dicermati antara lain perubahan tekanan darah dan perubahan gerakan janin. Jika muncul keluhan atau perubahan yang mengkhawatirkan, ibu disarankan segera berkonsultasi atau memeriksakan diri.
Buku KIA membantu ibu mencatat perubahan ini dari waktu ke waktu. Catatan tersebut memudahkan bidan atau dokter memahami kondisi ibu secara utuh saat pemeriksaan.
Informasi kesehatan di media sosial sering membuat ibu hamil ragu, apalagi jika sumbernya tidak jelas. Buku KIA bisa jadi pembanding pertama sebelum mempercayai informasi tersebut.
Irma menyarankan informasi dari internet dibandingkan dengan sumber kesehatan tepercaya. Jika masih menimbulkan keraguan, konsultasikan ke tenaga kesehatan.
Kebiasaan ini membantu keluarga menyaring mitos dan informasi keliru yang beredar, terutama soal kehamilan dan perawatan bayi.
Segera hubungi bidan atau dokter jika ibu mengalami keluhan yang mengkhawatirkan selama kehamilan. Misalnya tekanan darah berubah drastis, gerakan janin berkurang, atau muncul tanda bahaya lain yang tercantum di buku KIA.
Jangan menunggu jadwal pemeriksaan berikutnya jika kondisi terasa tidak normal. Buku KIA sudah memuat daftar tanda bahaya yang bisa ibu cek sendiri di rumah.
Membaca buku KIA secara rutin membuat ibu lebih peka terhadap perubahan kondisi tubuh dan perkembangan anak. Buku ini bukan sekadar syarat administrasi, melainkan pendamping perjalanan kehamilan hingga balita tumbuh sehat.