JAMBI — Kabar ini sekaligus menjawab spekulasi yang sempat beredar di kalangan analis global. Sebagian pihak menduga Ferrari bisa menunda proyek elektrifikasi karena kinerja keuangan yang sudah moncer dari lini mesin konvensional. Namun, pabrikan berlogo kuda jingkrak itu justru mempertegas komitmennya pada strategi jangka panjang.
Personalisasi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Laporan keuangan Ferrari untuk periode April-Juni 2026 mencatatkan laba operasi sebesar €605 juta. Margin keuntungan pun terjaga di angka 31,2 persen, naik tipis 10 persen dari tahun sebelumnya. Salah satu pendorong utama pertumbuhan ini bukan hanya penjualan unit, melainkan layanan tailor-made atau personalisasi.
Pembeli Ferrari di seluruh dunia, termasuk Indonesia, kini cenderung memesan material interior eksklusif, skema cat khusus, hingga detail karbon yang tidak tersedia di varian standar. Tren ini menghasilkan nilai tambah per unit yang signifikan bagi pabrikan asal Maranello tersebut.
Mobil Listrik Pertama: Bukan Sekadar Gimik
Meski belum merilis nama resmi model listrik perdananya, Ferrari memastikan proses pengembangan tetap berjalan sesuai jadwal. Model ini rencananya akan menjadi grand tourer empat kursi yang disebut-sebut memiliki DNA performa khas Ferrari, bukan sekadar kendaraan ramah lingkungan tanpa karakter.
Keputusan ini menarik. Di saat beberapa pabrikan supercar lain mulai mundur dari target elektrifikasi karena permintaan pasar yang belum matang, Ferrari justru mengambil posisi berbeda. Mereka memanfaatkan momentum kenaikan laba untuk mendanai riset baterai dan motor listrik berdaya tinggi.