JAMBI — Peristiwa itu terjadi di area depo penyimpanan armada PO Sinar Jaya yang berlokasi di kawasan industri Cikarang. Api pertama kali diketahui muncul pada Sabtu (18/5) dan dengan cepat membesar karena faktor angin serta material bus yang mudah terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kerugian material diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah mengingat harga satu unit bus antarkota antarprovinsi (AKAP) kelas premium bisa menembus angka Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar.
Kronologi Pemadaman yang Berlangsung Lima Jam
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bekasi mengerahkan sedikitnya 15 unit mobil pemadam ke lokasi kejadian. Upaya penjinakan api sempat terkendala oleh tingginya intensitas kobaran yang melahap badan-badan bus yang terparkir rapat dan berdampingan.
Petugas butuh waktu lima jam untuk mendinginkan titik-titik api yang tersisa. Proses pendinginan berlangsung alot karena material kursi dan interior bus menyimpan panas cukup lama. Suasana di lokasi sempat mencekam karena suara letupan kaca dan ban yang pecah terdengar berkali-kali selama proses pemadaman berlangsung.
Langkah Investigasi dan Respons Manajemen
Polsek Cikarang Selatan bersama tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Metro Jaya telah memasang garis polisi di sekitar lokasi kebakaran. Penyidik masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi dan teknisi untuk memastikan sumber api, apakah berasal dari korsleting listrik, faktor kelalaian manusia, atau sebab lain.
Manajemen PO Sinar Jaya belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai total kerugian dan skema asuransi armada yang terbakar. Namun, pihak perusahaan dipastikan akan melakukan audit internal terhadap sistem kelistrikan dan perawatan armada di pangkalan tersebut. Insiden ini menjadi pukulan berat bagi operator bus yang tengah bersiap menghadapi lonjakan penumpang arus mudik.
Peristiwa kebakaran ini sekaligus menyoroti aspek keselamatan dan manajemen risiko di lingkungan depo bus. Pengamat transportasi menilai standar keamanan pangkalan, termasuk jarak antar unit dan ketersediaan hidran, perlu dievaluasi menyeluruh oleh seluruh PO bus di Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang.