JAMBI — Bagi penggemar film kungfu era 90-an, Once Upon a Time in China II bukan sekadar tontonan biasa. Sutradara Tsui Hark membawa kisah pahlawan rakyat Wong Fei Hung ke level yang lebih dewasa dan emosional. Jika film pertama terasa seperti perkenalan, sekuel ini adalah pendewasaan karakter yang utuh.
Film langsung menampilkan China yang kacau. Pengaruh asing menguat, konflik politik memuncak, kelompok fanatik mulai bermunculan. Di tengah kekacauan itulah Wong Fei Hung, diperankan kembali oleh Jet Li, harus berjuang memegang prinsip hidupnya.
Karakternya kali ini terasa lebih tenang, bijaksana, namun juga lelah menghadapi dunia yang terus berubah. Yang membuat film ini berbeda, musuh utamanya bukan sekadar penjahat biasa. Konflik justru datang dari fanatisme dan ketakutan masyarakat terhadap perubahan.
Ada kelompok ekstrem yang mengatasnamakan tradisi sambil menyebarkan kekerasan dan kebencian terhadap orang asing. Tema ini membuat film terasa sangat relevan, bahkan untuk kondisi sosial politik saat ini.
Salah satu adegan yang paling diingat adalah pertarungan antara Wong Fei Hung dan karakter Master Kung yang diperankan Donnie Yen. Banyak penggemar menganggap duel ini sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah film kungfu Hong Kong. Pertarungan itu bukan sekadar soal siapa yang lebih kuat, melainkan benturan dua cara pandang terhadap dunia.
Ketika dua master bela diri bertarung sambil mempertahankan keyakinan masing-masing, hasilnya terasa sangat emosional. Gerakan Jet Li terlihat semakin cepat dan presisi. Koreografi pertarungan di film kedua ini dinilai lebih keren dibanding pendahulunya.
Aksi bela diri di sini bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan cara melindungi, bukan untuk menindas.
Sinematografi film ini terasa lebih megah. Banyak adegan dibuat dengan suasana dramatis penuh asap, api, dan pencahayaan khas film Hong Kong era 90-an. Visualnya punya nuansa epik tetapi tetap artistik.
Musik tema Wong Fei Hung yang heroik langsung membangkitkan emosi penonton setiap kali terdengar. Di sela konflik yang berat, film tetap punya sisi ringan lewat interaksi antar karakter. Hubungan Wong Fei Hung dengan Aunt Yee (Rosamund Kwan) berkembang lebih menarik.
Chemistry di antara mereka terasa hangat, tetapi tetap sederhana dan tidak berlebihan.
Yang membuat film ini benar-benar berkesan adalah bagaimana Wong Fei Hung tetap mencoba mempertahankan moralitas di tengah dunia yang penuh kekacauan. Ia tidak mudah terpancing emosi. Bahkan ketika menghadapi kebencian dan kekerasan, ia tetap mencari jalan yang lebih bijaksana.
Tsui Hark berhasil membuat film kungfu terasa seperti karya seni yang penuh refleksi sosial. Ia tidak hanya membuat pertarungan keren, tetapi juga membangun dunia yang terasa nyata dan emosional. Banyak penonton mungkin datang karena ingin melihat aksi Jet Li, tetapi setelah film selesai, yang tertinggal justru renungan tentang perubahan zaman, identitas budaya, dan bahaya fanatisme.
Once Upon a Time in China II bukan hanya sekuel yang lebih besar. Film ini terasa lebih dewasa, lebih emosional, dan lebih berani dalam menyampaikan pesan. Sampai sekarang, film ini masih terasa seperti pengingat bahwa dunia boleh berubah, tetapi nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan tetap harus dipertahankan.