JAMBI — Kabar kurang menggembirakan datang bagi para pekebun sawit di seluruh wilayah Provinsi Jambi. Setelah sempat menikmati kenaikan harga yang konsisten dalam beberapa pekan terakhir, kini nilai jual Tandan Buah Segar (TBS) harus merosot tipis mengikuti pergerakan pasar global yang sedang terkoreksi.
Dinas Perkebunan Provinsi Jambi bersama tim penetapan harga telah menyepakati angka baru untuk periode sepekan ke depan. Keputusan ini menjadi acuan penting bagi pabrik kelapa sawit (PKS) dan para petani mitra dalam melakukan transaksi jual beli hasil panen mereka.
Penurunan harga yang paling mencolok terjadi pada kelompok umur tanaman 10 hingga 20 tahun. Kelompok ini selama ini menjadi primadona dan standar produktivitas tertinggi bagi para petani di lapangan karena menghasilkan buah dengan kualitas rendemen yang optimal.
Berdasarkan data hasil rapat penetapan, harga TBS untuk kelompok umur 10-20 tahun tersebut merosot sebesar Rp 34,46 per kilogram jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Dengan koreksi ini, harga yang semula lebih tinggi kini bertengger di angka Rp 3.860,52 per kilogram.
Meski penurunan ini terlihat kecil secara nominal per kilogram, bagi petani swadaya yang memiliki lahan luas, akumulasi selisih harga tersebut tetap memberikan dampak nyata pada perhitungan margin keuntungan bersih setelah dipotong biaya upah panen dan transportasi ke pabrik.
Melemahnya harga TBS di tingkat lokal Jambi pada pertengahan Mei 2026 ini dipengaruhi kuat oleh kondisi pasar minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Harga rata-rata CPO hasil rapat penetapan dipatok pada angka Rp 14.547,07 per kilogram.
Selain faktor CPO, komponen inti sawit atau kernel juga mengalami penyesuaian. Untuk periode 15 hingga 21 Mei 2026, harga kernel berada di level Rp 15.020,26 per kilogram. Tim penetapan juga menyepakati besaran Indeks “K” di angka 95,22 persen sebagai variabel pengali dalam penentuan harga akhir.
Fluktuasi harga komoditas unggulan ini memang sulit dihindari karena sangat bergantung pada permintaan pasar ekspor dan stok minyak nabati dunia. Jambi sebagai salah satu lumbung sawit nasional menjadi wilayah yang paling sensitif terhadap perubahan harga sekecil apa pun di bursa komoditas.
Bagi masyarakat di pelosok Jambi, kelapa sawit bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan urat nadi ekonomi yang menghidupkan daya beli di pasar-pasar tradisional. Penurunan harga ini biasanya langsung memicu diskusi hangat di warung-warung kopi tempat para pekebun berkumpul usai menimbang buah.
Para petani kini berharap agar kondisi pasar CPO kembali stabil dan menunjukkan tren penguatan pada periode penetapan berikutnya. Konsistensi harga di atas level Rp 3.000 per kilogram sebenarnya masih dinilai cukup kompetitif bagi petani untuk menutup biaya perawatan dan pembelian pupuk yang harganya masih fluktuatif.
Dinas Perkebunan Provinsi Jambi mengimbau agar para perusahaan kelapa sawit mematuhi harga ketetapan ini dalam membeli TBS dari petani mitra. Pengawasan di lapangan tetap dilakukan guna memastikan keadilan harga bagi para pekebun di tengah dinamika pasar global.