JAMBI — Sebanyak 11 anak dari komunitas adat terpencil di Kabupaten Tebo dipastikan menjadi bagian dari angkatan pertama Sekolah Rakyat (SR) di Provinsi Jambi. Mereka berasal dari Suku Anak Dalam (Orang Rimba) dan Suku Talang Mamak. Kedelapan anak akan menempuh pendidikan di jenjang SMP, sementara tiga lainnya di tingkat SMA.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jambi, Edi Kusmiran, mengatakan bahwa seluruh proses belajar mengajar akan dimulai pada 30 Juli 2026, bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). "Pada 30 Juli nanti siswa sudah masuk dan menggunakan gedung yang baru," kata Edi, Minggu (19/7/2026).
Menurut Edi, pembangunan gedung Sekolah Rakyat di Kota Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah selesai dikerjakan. Saat ini, pekerjaan hanya menyisakan tahap akhir berupa pembersihan dan perapian lingkungan sebelum seluruh fasilitas bisa digunakan.
Infrastruktur yang telah siap itu menjadi modal awal program SR yang digadang-gadang sebagai solusi memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan komunitas adat terpencil.
Di balik kesiapan infrastruktur, Dinas Sosial masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kuota peserta didik, khususnya untuk jenjang sekolah dasar. Dari target 90 peserta didik baru yang tersebar di jenjang SD, SMP, dan SMA, jumlah pendaftar tingkat SD belum mencapai target.
Di Kota Jambi, pendaftar jenjang SD baru mencapai sekitar 40 orang. Sementara di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, baru sekitar 30 calon siswa yang mendaftar. Edi menilai masih rendahnya jumlah pendaftar dipengaruhi kekhawatiran orang tua terhadap sistem pendidikan berasrama yang diterapkan bagi anak usia SD.
"Untuk anak SD, sebagian orang tua masih merasa belum siap melepas anaknya tinggal di asrama karena faktor usia dan psikologis," ujarnya.
Kehadiran 11 anak dari komunitas adat terpencil di Tebo itu merupakan hasil pendampingan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, bersama keluarga dan tokoh masyarakat adat. Mereka mendorong agar anak-anak dari kelompok yang selama ini terpinggirkan itu bisa mengakses pendidikan formal.
Edi Kusmiran berharap Sekolah Rakyat menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu maupun komunitas adat terpencil untuk memperoleh hak yang sama dalam mengenyam pendidikan. "Dengan pendidikan yang layak, mereka memiliki kesempatan lebih besar membangun masa depan yang lebih baik," tutup Edi.