JAKARTA — Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal, terutama kebijakan moneter AS. Kekhawatiran inflasi kembali mencuat setelah harga minyak mentah dunia melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi di AS bisa tetap di atas target The Fed. “Hal ini berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Senin.
Eskalasi serangan antara AS dan Iran di akhir pekan menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak. Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap Iran pada Minggu (19/7) malam, sebagai respons atas serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania yang menewaskan dua tentara AS.
Pertempuran masih berfokus pada kendali Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. CENTCOM menyatakan serangan AS bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Selat Hormuz. “Pengiriman (suplai minyak) melalui Hormuz sebagian besar masih terganggu membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut,” kata Ibrahim.
Kondisi ini membuat pasar terus memperhitungkan premi risiko yang lebih besar pada komoditas minyak. Dampaknya, dolar AS semakin perkasa dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Bank Indonesia (BI) melalui kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mencatat pelemahan. Pada hari yang sama, JISDOR bergerak dari level Rp17.944 per dolar AS menjadi Rp17.976 per dolar AS. Pelemahan ini mengonfirmasi tekanan yang dihadapi rupiah di pasar spot.