Wintermute, salah satu pembuat pasar (market maker) kripto terbesar di dunia, kini resmi memiliki status broker-dealer di Amerika Serikat. Unit mereka yang berbasis di New York, Wintermute USA LLC, telah mendaftar ke Securities and Exchange Commission (SEC) dan Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). Dengan status ini, perusahaan tidak lagi hanya bermain di pasar aset kripto, tetapi juga bisa bertransaksi saham, opsi, dan menjadi partisipan resmi untuk dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Keputusan ini keluar di tengah meningkatnya integrasi antara pasar kripto dan keuangan tradisional. Wintermute menyatakan unit ini akan beroperasi sebagai perusahaan trading milik sendiri (proprietary trading), bukan broker ritel yang melayani investor perorangan.
Dengan registrasi ini, Wintermute bisa melakukan tiga hal utama: memperdagangkan saham dan opsi ekuitas AS, menyediakan likuiditas untuk ETF, dan menjadi authorized participant (AP) untuk ETF—termasuk ETF yang berbasis kripto. Peran AP ini penting karena mereka yang menciptakan dan menarik kembali (redeem) blok-blok besar saham ETF, menjaga harga pasar tetap sejalan dengan nilai aset dasarnya.
Perusahaan juga berpeluang menjadi pembuat pasar di bursa efek seperti New York Stock Exchange (NYSE) dan Nasdaq. Menurut laporan Wall Street Journal, Wintermute telah menyiapkan kerja sama dengan sejumlah penerbit ETF.
Volume perdagangan harian Wintermute disebut-sebut menembus angka US$10 miliar, tersebar di lebih dari 60 platform terpusat dan terdesentralisasi. Angka ini menempatkan mereka sebagai pemain kunci di ekosistem aset digital global.
Langkah Wintermute bukan kasus pertama. Sebelumnya, Ripple menyelesaikan akuisisi senilai US$1,25 miliar terhadap prime broker Hidden Road pada 2025. GSR mengakuisisi broker-dealer Equilibrium Capital Services, dan Crypto.com membeli Watchdog Capital pada 2024. Pola ini menunjukkan arah yang jelas: perusahaan kripto serius membangun infrastruktur regulasi di pasar modal AS.
Bagi Wintermute sendiri, perjalanan menuju izin ini sudah dimulai sejak lama. Mereka membuka kantor pusat di New York tahun lalu, kemudian meminta klarifikasi ke SEC soal kemungkinan broker-dealer memperdagangkan sekuritas tokenisasi untuk akun sendiri, melakukan self-clearing, dan menyimpan posisi melalui perangkat lunak dompet digital.
Meski izin ini berlaku di AS, dampaknya bisa terasa hingga ke pasar Asia, termasuk Indonesia. Ketika pemain besar seperti Wintermute bisa bergerak lebih leluasa di dua dunia—kripto dan saham—likuiditas global meningkat. Ini berpotensi memengaruhi harga aset kripto yang diperdagangkan di bursa lokal, mengingat pasar Indonesia masih sangat bergantung pada pergerakan harga global.
Namun, perlu dicatat bahwa Wintermute belum mengumumkan layanan untuk investor ritel. Fokus awal mereka adalah pasar institusional dan produk yang terkait kripto. Rencana untuk masuk ke saham tokenisasi (tokenized stocks) masih menunggu persetujuan regulasi lebih lanjut.
Yang jelas, tembok pemisah antara kripto dan Wall Street semakin tipis. Dan Wintermute baru saja menempatkan diri di posisi paling depan untuk menjembatani keduanya.