JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatatkan rekor sejarah baru pada pembukaan perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda langsung tertekan sejak bel pembukaan, merosot hingga menyentuh level Rp 17.614 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengonfirmasi bahwa angka tersebut merupakan level terlemah yang pernah dialami rupiah. Menurutnya, tekanan besar ini datang dari sentimen global yang saling berkaitan, terutama kondisi di Timur Tengah dan indikator ekonomi dari Amerika Serikat.
"Iya, level terendah sepanjang sejarah," kata Ariston saat memberikan keterangan pada Jumat (15/5).
Mengapa Rupiah Terus Tertekan Sentimen Global?
Kenaikan indeks dolar AS didorong oleh data penjualan ritel terbaru yang menunjukkan pertumbuhan positif. Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang tetap kokoh membuat para investor meyakini bahwa Bank Sentral AS atau The Fed memiliki peluang kecil untuk memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Selain faktor ekonomi domestik AS, kenaikan harga minyak dunia akibat gejolak di Timur Tengah turut memperburuk posisi rupiah. Ariston menjelaskan bahwa kombinasi harga energi yang tinggi dan data ekonomi AS yang bagus menjadi beban ganda bagi nilai tukar mata uang lokal.
Analis pasar uang Lukman Leong menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut memberikan tekanan tambahan. Hal ini terjadi setelah data inflasi di negara tersebut keluar lebih tinggi dari perkiraan pasar, yang memicu prospek kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed.
"Rupiah diperkirakan dibuka melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar di tengah optimisme investor terhadap pertemuan Xi dan Trump," ujar Lukman.
Kondisi Mata Uang Asia dan Negara Maju
Pelemahan rupiah tidak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak di zona merah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,50 persen, diikuti ringgit Malaysia yang turun 0,39 persen, dan baht Thailand yang terkoreksi 0,28 persen.
Bahkan, mata uang negara maju juga tidak luput dari gempuran dolar AS. Dolar Australia melemah 0,47 persen, poundsterling Inggris turun 0,28 persen, dan euro Eropa menyusut 0,19 persen. Tekanan merata ini menunjukkan dominasi dolar AS yang sedang menguat secara global.
Pasar saat ini masih menunggu hasil resmi dari pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Meskipun optimisme menyelimuti pasar terkait pembicaraan kedua pemimpin tersebut, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan hingga perdagangan hari ini berlangsung.