JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada awal pekan lalu. Data BEI mencatat indeks ditutup melemah 75,34 poin atau 1,28 persen ke posisi 5.820,79. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut tertekan, turun 10,71 poin atau 1,83 persen ke level 573,01.
“Mengawali pekan ini, tekanan eksternal dan internal turut menopang tekanan IHSG,” ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin.
Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Dari mancanegara, Nico menjelaskan bahwa pasar kembali dihantui risiko geopolitik. Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat setelah AS menyerang basis militer Iran pada akhir pekan lalu. Serangan itu merupakan respons atas aksi Iran yang sebelumnya menyerang wilayah Selat Hormuz.
Situasi semakin runyam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran. Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengklaim pesawat AS baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pantai, karena dianggap melanggar Perjanjian Gencatan Senjata. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal terhadap Bahrain dan Kuwait.
Meski kedua pihak sepakat untuk menangguhkan serangan lebih lanjut jelang pembicaraan damai di Doha, Qatar, ketidakpastian masih menyelimuti pasar. “Pelaku pasar wait and see, terutama apabila tidak ada perbaikan kebijakan yang memberikan dampak secara jangka pendek,” kata Nico.
Data Ekonomi AS dan Dalam Negeri Jadi Sorotan
Sepanjang pekan ini, investor akan mencermati sejumlah data penting. Dari AS, perhatian tertuju pada data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs), pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, serta data Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran AS. “Data ekonomi AS yang dinantikan, khususnya ketenagakerjaan, apabila hasilnya kurang baik berpotensi memberikan tekanan kepada pasar,” tambah Nico.
Dari dalam negeri, pelaku pasar terus memantau perkembangan reformasi transparansi pasar modal Indonesia dan kebijakan pemerintahan. Mereka juga mencermati belum adanya aliran dana asing (foreign inflow) yang masuk secara konsisten. Data yang akan menjadi indikator kekuatan ekonomi antara lain PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, dan neraca perdagangan.
Mayoritas Sektor Melemah, Properti Jadi Satu-satunya Penopang
Dari 11 sektor IDX-IC, sepuluh sektor tercatat melemah. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpuruk dengan penurunan 1,63 persen, diikuti sektor barang baku yang turun 1,44 persen dan sektor keuangan minus 1,16 persen. Hanya sektor properti yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,62 persen.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.205.000 kali transaksi dengan volume saham mencapai 12,99 miliar lembar senilai Rp8,16 triliun. Sebanyak 228 saham berhasil naik, 467 saham menurun, dan 264 saham stagnan.
Sementara itu, bursa saham regional Asia justru kompak menguat. Indeks Nikkei naik 0,23 persen, Shanghai menguat 1,16 persen, Hang Seng melesat 1,48 persen, dan Strait Times terapresiasi 0,20 persen.