Pencarian

7 Objek Wisata Sejarah di Jambi yang Penuh Cerita dan Wajib Dikunjungi

Jumat, 17 Juli 2026 • 17:37:31 WIB
7 Objek Wisata Sejarah di Jambi yang Penuh Cerita dan Wajib Dikunjungi
Kompleks Candi Muaro Jambi di Kabupaten Muaro Jambi merupakan kawasan percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara dengan luas 3.981 hektar.

Jambi bukan sekadar kota yang ramai dengan lalu lintas kapal di Sungai Batanghari. Di balik hiruk-pikuknya, provinsi ini adalah laboratorium sejarah terbuka. Dari prasasti peninggalan Kerajaan Melayu hingga makam ulama besar, setiap sudutnya menyimpan narasi yang membentuk identitas Jambi hari ini. Bagi yang mencari pengalaman lebih dari sekadar foto, tujuh tempat ini layak masuk daftar.

Artikel ini dirangkum dari pengalaman lapangan dan diskusi dengan komunitas pegiat sejarah Jambi. Fokusnya pada tempat-tempat yang betul-betul bisa diakses dan memiliki nilai cerita yang kuat—bukan sekadar situs yang namanya tercantum di papan petunjuk.

1. Candi Muaro Jambi: Kompleks Percandian Terluas di Asia Tenggara

Terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, kompleks ini membentang di area seluas 3.981 hektar. Ini menjadikannya kompleks percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara, bahkan lebih luas dari Angkor Wat di Kamboja.

Situs ini diperkirakan menjadi pusat pendidikan agama Buddha abad ke-7 hingga ke-13. Di dalamnya terdapat puluhan candi, kolam kuno, dan kanal yang terhubung ke Sungai Batanghari. Candi Gumpung dan Candi Tinggi adalah dua bangunan yang paling sering dikunjungi. Pengunjung bisa menyusuri jalan setapak yang membelah hutan, merasakan langsung skala megah peradaban yang pernah berjaya di sini.

Tips praktis: Datanglah pagi hari saat matahari belum terlalu terik. Siapkan alas kaki yang nyaman karena area berjalan cukup luas. Jangan lupa mampir ke museum kecil di pintu masuk untuk melihat koleksi artefak seperti keramik asing dan arca.

2. Museum Negeri Provinsi Jambi: Jejak Kerajaan Melayu dan Kolonial

Beralamat di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, berhadapan langsung dengan Kantor Gubernur Jambi. Museum ini menyimpan lebih dari 4.000 koleksi, termasuk prasasti peninggalan Kerajaan Melayu dan benda-benda etnografi dari suku-suku pedalaman Jambi.

Satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah replika Prasasti Karang Berahi, yang menjadi bukti eksistensi Kerajaan Melayu pada abad ke-7. Selain itu, terdapat ruang khusus yang menampilkan senjata tradisional dan pakaian adat dari Kerinci hingga Bungo. Bangunan museum sendiri bergaya arsitektur rumah adat Jambi, membuatnya fotogenik dari luar.

Tips praktis: Luangkan waktu setidaknya 1,5 jam untuk berkeliling. Bawa buku catatan kecil jika tertarik menyalin informasi dari panel-panel yang tersedia. Tiket masuk sangat terjangkau, cocok untuk pelajar dan peneliti.

3. Makam Sultan Thaha Syaifuddin: Pejuang dari Kesultanan Jambi

Sultan Thaha Syaifuddin adalah pahlawan nasional yang memimpin perlawanan terhadap Belanda pada abad ke-19. Makamnya terletak di kawasan kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Jambi di Kelurahan Tanjung Pasir, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi.

Lokasi makam berada di atas bukit kecil yang dikelilingi pepohonan rindang. Dari sini, pengunjung bisa melihat aliran Sungai Batanghari di kejauhan. Makam ini menjadi tempat ziarah rutin, terutama pada hari-hari besar nasional. Di dekat makam terdapat sebuah musala kecil dan papan informasi yang menceritakan riwayat perjuangan Sultan Thaha.

Tips praktis: Akses jalan menuju makam cukup sempit, jadi lebih baik parkir kendaraan di area parkir umum lalu berjalan kaki. Jaga sopan santun karena area ini masih aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan dan adat.

4. Taman Purbakala Kerinci: Prasasti Batu Panjang di Kaki Gunung

Terletak di Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, tepatnya di kaki Gunung Kerinci. Situs ini terdiri dari beberapa prasasti batu yang diperkirakan berasal dari abad ke-14. Prasasti-prasasti ini dikenal dengan nama "Batu Panjang" dan "Batu Bertulis".

Yang membedakan situs ini dari candi-candi di pesisir adalah aksara yang digunakan. Prasasti di Kerinci menggunakan aksara Melayu kuno dengan campuran bahasa Sanskerta. Ini menunjukkan bahwa pengaruh Hindu-Buddha sudah merambah hingga dataran tinggi Jambi. Pemandangan di sekitarnya sangat asri, dengan latar belakang gunung dan sawah bertingkat.

Tips praktis: Perjalanan dari Kota Jambi ke Kerinci memakan waktu sekitar 6-7 jam melalui jalan darat. Siapkan jaket tebal karena suhu di Kerinci bisa turun hingga 15 derajat Celsius di malam hari. Cari pemandu lokal di desa terdekat untuk mendapatkan penjelasan lebih mendalam tentang isi prasasti.

5. Benteng Kuto Besak: Sisa Pertahanan Belanda di Tepian Batanghari

Berlokasi di Kelurahan Legok, Kecamatan Danau Teluk, tidak jauh dari pusat Kota Jambi. Benteng ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-19 sebagai pusat pertahanan dan administrasi.

Arsitektur benteng bergaya Eropa klasik dengan dinding tebal dari bata merah. Meski sebagian dindingnya sudah runtuh, struktur utama masih berdiri kokoh. Di dalam benteng terdapat beberapa ruangan yang dulunya digunakan sebagai gudang mesiu dan tempat tinggal tentara. Dari atas benteng, pengunjung bisa melihat langsung aktivitas kapal di Sungai Batanghari.

Tips praktis: Benteng ini tidak memiliki pagar pembatas yang ketat, jadi awasi anak-anak jika membawa mereka. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari saat cahaya matahari jatuh tepat di dinding bata merah, menghasilkan kontras yang dramatis untuk fotografi.

6. Candi Solok Sipin: Candi Kecil di Tengah Pemukiman Kota

Terletak di Kelurahan Solok Sipin, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi. Candi ini berukuran lebih kecil dibandingkan candi-candi di Muaro Jambi, namun memiliki nilai historis yang tidak kalah penting. Candi Solok Sipin diperkirakan merupakan bagian dari jaringan permukiman kuno di sepanjang aliran Batanghari.

Yang unik dari candi ini adalah lokasinya yang berada di tengah pemukiman padat penduduk. Tidak jauh dari candi, terdapat sebuah kolam kuno yang masih digunakan warga setempat untuk mandi dan mencuci. Ini menunjukkan bahwa situs bersejarah bisa hidup berdampingan dengan aktivitas modern.

Tips praktis: Akses ke candi mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua. Tidak ada tiket masuk, jadi pengunjung bisa datang kapan saja. Namun, karena lokasinya di area pemukiman, jaga volume suara dan hormati privasi warga sekitar.

7. Danau Sipin: Bekas Pelabuhan Kuno Kerajaan Melayu

Danau Sipin terletak di pusat Kota Jambi, tepatnya di Kecamatan Danau Sipin. Secara geografis, danau ini adalah bekas aliran Sungai Batanghari yang terputus. Namun, secara historis, kawasan ini diyakini sebagai bekas pelabuhan kuno Kerajaan Melayu pada abad ke-7 hingga ke-9.

Beberapa artefak seperti gerabah dan keramik asing ditemukan di sekitar danau, menguatkan dugaan bahwa tempat ini pernah menjadi pusat perdagangan internasional. Kini, Danau Sipin menjadi ruang publik yang populer untuk jogging dan bersantai. Pemerintah kota juga telah membangun jalur pedestrian dan taman di sekelilingnya.

Tips praktis: Datanglah saat pagi hari untuk menikmati udara segar. Bawa teropong kecil jika tertarik mengamati burung air yang sering singgah di danau. Di sekitar danau terdapat beberapa pedagang kaki lima yang menjual makanan ringan khas Jambi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Candi Muaro Jambi bisa dikunjungi dalam sehari dari Kota Jambi?
Bisa. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jambi, dengan waktu tempuh kurang dari satu jam menggunakan kendaraan pribadi. Disarankan berangkat pagi agar punya waktu cukup untuk berkeliling kompleks.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjelajahi Museum Negeri Jambi?
Rata-rata pengunjung menghabiskan waktu 1 hingga 2 jam. Jika Anda seorang peneliti atau penggemar sejarah, siapkan waktu lebih untuk membaca panel informasi dan mengamati koleksi secara detail.

Apa yang membedakan prasasti di Kerinci dengan prasasti di pesisir Jambi?
Prasasti di Kerinci menggunakan aksara Melayu kuno dengan pengaruh Sanskerta, sementara prasasti di pesisir seperti di Muaro Jambi lebih banyak menggunakan aksara Pallawa. Ini menunjukkan perbedaan periode dan pengaruh budaya.

Apakah ada pemandu wisata di situs-situs sejarah Jambi?
Untuk Candi Muaro Jambi, tersedia pemandu resmi yang bisa dihubungi di pintu masuk. Untuk situs lain seperti Makam Sultan Thaha atau Benteng Kuto Besak, biasanya tidak ada pemandu tetap, jadi disarankan membaca informasi dari papan petunjuk atau mencari referensi daring sebelumnya.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi situs sejarah di Jambi?
Musim kemarau antara Juni hingga September adalah waktu paling ideal. Curah hujan rendah membuat akses jalan lebih mudah dan aktivitas di luar ruangan lebih nyaman. Hindari bulan Desember hingga Februari karena intensitas hujan tinggi.

Jambi menawarkan lebih dari sekadar pemandangan alam. Setiap situs sejarahnya adalah bab dari buku besar peradaban yang belum selesai dibaca. Bagi yang mau meluangkan waktu, cerita-cerita itu akan terasa hidup—bukan hanya dari batu dan prasasti, tetapi dari udara yang masih sama seperti ratusan tahun lalu. Selamat menjelajah.

Bagikan

Berita Terkini

Indeks