JAMBI — Gagasan yang diusung Presiden FIFA Gianni Infantino ini langsung memicu reaksi negatif. UEFA, yang mewakili 55 federasi anggotanya, dikabarkan akan menggelar pertemuan darurat. Salah satu opsi yang dibahas adalah boikot terhadap Piala Dunia. FA Inggris dan Concacaf juga menyuarakan kritik serupa terhadap rencana investasi tersebut.
Janji Infantino 2016 Berbanding Terbalik dengan Rencana 2026
Ironi mencolok terlihat dari pernyataan Infantino saat terpilih sebagai presiden FIFA pada 26 Februari 2016. Kala itu, ia berjanji memulihkan citra organisasi yang terpuruk akibat skandal korupsi. "Uang FIFA harus digunakan untuk mengembangkan sepak bola," ujarnya. "Uang itu milik Anda, bukan milik presiden FIFA."
Kini, satu dekade berselang, Infantino justru mendorong masuknya modal swasta ke turnamen utama sepak bola. Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai pengingkaran terhadap janji reformasi yang pernah ia gaungkan. Padahal, saat itu ia juga berjanji menambal lubang keuangan FIFA yang mencapai US$550 juta.
Sepp Blatter: "FIFA Akan Kehilangan Jiwanya"
Kritik paling pedas justru datang dari pendahulu Infantino, Sepp Blatter. Dalam pernyataan yang dikutip media Inggris, mantan presiden FIFA itu menegaskan sepak bola bukan milik individu atau institusi. "Itu milik rakyat. Jika FIFA berubah menjadi struktur perusahaan yang berorientasi profit, ia akan kehilangan jiwanya," kata Blatter.
Pernyataan Blatter ini menjadi tamparan keras bagi Infantino, mengingat Blatter sendiri pernah tersandung kasus korupsi besar yang membuat FIFA tercoreng. Namun, kali ini suara Blatter justru sejalan dengan mayoritas federasi sepak bola dunia yang menolak rencana komersialisasi berlebihan.
Momen Euphoria Piala Dunia vs Ambisi Bisnis
Hanya sepuluh hari sebelum kabar ini mencuat, Ferran Torres mencetak gol kemenangan di final Geopolitics World Cup. Momen euforia murni yang, seperti ditulis Football Daily, "tak ternilai harganya jika bisa dibotolkan." Namun, kenangan indah itu seolah terusik oleh ambisi bisnis yang kian tak terkendali.
"Sepak bola pada titik terbaiknya menghidupkan kembali anak kecil dalam diri kita semua," tulis Football Daily. "Tapi apa pun kata ahli bahasa, tidak ada 'infant' (bayi) dalam diri Infantino." Sindiran ini merujuk pada nama belakang presiden FIFA yang justru bertolak belakang dengan kebijakannya yang dianggap makin menjauh dari esensi olahraga.
Respons Komunitas Sepak Bola: "Keterlaluan, Sobat"
Reaksi umum dari berbagai kalangan sepak bola dunia, menurut laporan Football Daily, adalah "keterlaluan, sobat." Rencana investasi ini dinilai sebagai langkah paling egregious yang pernah diajukan Infantino dan kawan-kawan. FIFA sendiri beralasan dana tersebut akan digunakan untuk "memperluas pendanaan pengembangan sepak bola."
Namun, skeptisisme publik dan federasi begitu kuat. Belum ada keputusan final, namun pertemuan darurat UEFA dalam waktu dekat akan menjadi penentu apakah rencana ini benar-benar bisa dijalankan atau harus kandas di tengah jalan.