TANJUNG JABUNG TIMUR — Puluhan pekerja hulu migas di Jambi kembali menjalani pelatihan tanggap darurat. SKK Migas-PetroChina International Jabung Ltd membuka First Aid Training 2026 di Rec Hall Geragai Basecamp, Tanjung Jabung Timur, Sabtu (1/8/2026), sebagai bagian dari program Basic Emergency Response.
Pelatihan ini berlangsung selama empat hari di dua lokasi berbeda. Dua hari pertama digelar di Geragai Basecamp pada 1-2 Agustus 2026, lalu dilanjutkan di Betara Camp, Tanjung Jabung Barat pada 29-30 Agustus 2026.
Bukan Agenda Baru: Sudah Berjalan 15 Tahun
Program ini bukan kegiatan sekali jalan. PetroChina tercatat konsisten menggelar pelatihan serupa dua kali setiap tahun selama kurang lebih 15 tahun terakhir untuk pekerja di wilayah operasi Betara dan Geragai.
Konsistensi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan kerja. Setiap pekerja dituntut mampu memberikan respons awal ketika terjadi kondisi darurat di lokasi kejadian, sebelum tim medis profesional tiba.
Risiko Tinggi Sektor Migas Jadi Alasan Utama
Medical Officer PetroChina, dr. William Aditya, menegaskan bahwa kompetensi pertolongan pertama menjadi kebutuhan mutlak di sektor hulu migas. Aktivitas di lapangan memiliki tingkat risiko yang tinggi, sehingga tindakan awal yang tepat bisa menentukan keselamatan korban.
"Tindakan awal yang tepat sebelum tenaga medis tiba dapat membantu meminimalkan dampak cedera sekaligus meningkatkan peluang keselamatan korban," ujar William.
Selain pelatihan, perusahaan juga melengkapi area operasional dengan sarana pendukung keselamatan seperti kotak P3K, tandu, bidai, hingga perlengkapan tanggap darurat lainnya. Kemampuan petugas P3K dievaluasi secara berkala melalui pelatihan lanjutan dan kompetisi internal agar keterampilan tetap terasah.
Materi Latihan: dari Luka Bakar hingga RJP
Ketua Bidang Kerja Sama HIPGABI Provinsi Jambi, Ns. Suryadi Imran, menjelaskan bahwa peserta dibekali materi penanganan luka bakar, patah tulang, bantuan hidup dasar, dan Resusitasi Jantung Paru (RJP). Seluruh materi disampaikan instruktur bersertifikat dan diperkuat simulasi lapangan.
Metode ini dirancang agar peserta mampu bertindak cepat, tepat, dan tetap tenang saat menghadapi keadaan darurat. Simulasi yang diberikan meniru berbagai skenario kecelakaan yang mungkin terjadi di lingkungan kerja.
Peserta: Sesi Praktik Paling Berkesan
Salah satu peserta, Rullyana, menilai kombinasi teori dan praktik membuat materi lebih mudah dipahami. Ia mengaku kepercayaan dirinya meningkat setelah mengikuti simulasi penanganan kecelakaan.
"Yang paling berkesan adalah sesi praktiknya. Kami tidak hanya memahami teori, tetapi juga dilatih menghadapi berbagai skenario kecelakaan sehingga lebih siap jika suatu saat harus memberikan pertolongan pertama kepada rekan kerja maupun masyarakat," ungkap Rullyana.
Melalui pelatihan yang berlangsung belasan tahun ini, SKK Migas-PetroChina menargetkan pekerja yang tidak hanya andal dalam tugas operasional, tetapi juga siap menjadi garda terdepan pertolongan pertama di lingkungan kerja dan tengah masyarakat.