JAMBI — Konsultasi publik penyusunan Peta Jalan GRK Kota Jambi berlangsung di Aston Hotel, dihadiri dinas terkait di lingkungan Pemkot Jambi, organisasi masyarakat sipil, serta sejumlah perguruan tinggi. Agenda utama pertemuan ini adalah memaparkan baseline emisi, skenario bisnis seperti biasa (BAU), hingga target aksi prioritas mitigasi yang akan menjadi pedoman pembangunan ke depan.
Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN STS Jambi, Dr. Pahmi.Sy, S.Ag, M.Si, menyebut persoalan emisi di kota ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas perkotaan yang terus tumbuh. "Meningkatnya emisi GRK tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga memunculkan berbagai risiko sosial seperti meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap banjir, penurunan kualitas kesehatan akibat pencemaran udara, berkurangnya ruang hijau, sampah yang membusuk dan berserakan, hingga ancaman terhadap ketahanan ekonomi masyarakat," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Kampus Diminta Jadi Mitra Riset dan Inovasi
Posisi UIN STS Jambi dinilai strategis dalam transformasi menuju Kota Jambi yang hijau dan tangguh. Lewat Tri Dharma Perguruan Tinggi, kampus ini diharapkan menghasilkan kajian tentang inventarisasi emisi, pengelolaan sampah, energi terbarukan, hingga strategi adaptasi perubahan iklim yang menjadi dasar kebijakan pemerintah.
Harapan itu sejalan dengan arahan Wali Kota Jambi Dr.dr. Maulana, S.KM, M.KM saat penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah universitas. Kepala daerah tersebut meminta perguruan tinggi menjadi mitra terbaik dalam menata kota melalui riset dan ilmu pengetahuan.
Ecocampus dan Ekonomi Hijau untuk Warga
Peran kedua yang disorot adalah pendidikan karakter ekologis bagi mahasiswa. Konsep ecocampus dan green campus disebut bisa menjadi laboratorium hidup untuk menanamkan budaya hemat energi dan pengurangan sampah plastik. Kampus I UIN STS Jambi yang berada di Telanaipura disebut ideal untuk menggerakkan edukasi terstruktur ke sekolah dan komunitas warga.
Pada tataran pengabdian masyarakat, kampus ini siap mendampingi warga membangun kampung ramah lingkungan, memperkuat bank sampah, dan mengembangkan ekonomi hijau berbasis potensi lokal. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pengurangan emisi sekaligus penerima manfaat lingkungan yang lebih sehat.
Nilai Keislaman Jadi Landasan Moral
Sebagai perguruan tinggi Islam, UIN STS Jambi mengintegrasikan nilai keagamaan dalam etika lingkungan. Ajaran tentang amanah menjaga bumi (khalifah fil ardh) menjadi landasan moral untuk membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab keagamaan.
Peta Jalan GRK ini dinilai akan lebih efektif jika dibangun lewat kolaborasi antara pemda, akademisi, dunia usaha, dan komunitas. UIN STS Jambi siap berperan sebagai pusat kajian perubahan iklim, penyedia data ilmiah, hingga agen edukasi publik yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan warga.
Kolaborasi disebut menjadi kunci karena persoalan lingkungan di Kota Jambi tidak berdiri sendiri. Sebagai pusat perdagangan dan pendidikan, kota ini menerima pasokan masalah lingkungan, seperti sampah dan polusi kendaraan, dari daerah kabupaten/kota sekitarnya. Keberhasilan pengendalian GRK nantinya tidak hanya diukur dari turunnya emisi karbon, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat.