JAMBI — Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau berada di kisaran 99,6 poin. Level ini mencerminkan tren pelemahan yang berkelanjutan sepanjang pekan terakhir, seiring dengan perubahan sentimen pasar global yang mulai berani beralih ke aset berisiko.
Pemicu utamanya ada dua. Pertama, sinyal meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah prospek kesepakatan damai antara AS dan Iran kembali mengemuka. Hal ini membuka peluang pemulihan arus transit minyak melalui Selat Hormuz, sehingga mengurangi kebutuhan investor untuk berlindung di dolar AS. Kedua, pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda pendinginan dengan hilangnya 23.000 lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan per jam rata-rata yang melambat, meredam ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed lebih lanjut.
Para pelaku pasar kini mengalihkan fokus ke rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan keluar pekan ini. Data inflasi ini akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan dolar ke depan. Jika inflasi tercatat tinggi, dolar berpotensi menguat kembali. Sebaliknya, jika CPI turun lebih cepat dari perkiraan, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed akan menguat dan memberikan tekanan tambahan pada dolar AS.
Di kawasan Asia, intervensi berkelanjutan dari otoritas Jepang untuk menopang yen juga menambah volatilitas pergerakan dolar. Kondisi ini membuat posisi dolar semakin rapuh di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global.
Di dalam negeri, pergerakan nilai tukar dolar AS di bank-bank komersial justru tidak seragam. Bank Negara Vietnam (SBV) menetapkan nilai tukar sentral di angka 25.463 VND/USD, sementara di lantai bursa, harga jual tercatat di level 26.654 VND.
Hasil survei pada sesi pagi ini menunjukkan pergerakan yang berlawanan arah di sejumlah bank. Vietcombank menurunkan kurs jualnya sebesar 10 dong menjadi 26.400 VND/USD. Sementara itu, VietinBank justru menaikkan harga jualnya sebesar 18 dong ke level 26.403 VND/USD. Adapun BIDV mematok harga jual di 26.400 VND/USD, turun tipis 5 dong dari sesi sebelumnya.
Berbeda dengan bank komersial, nilai tukar dolar di pasar gelap dan toko emas justru tercatat menurun. Hingga pukul 08.46 waktu setempat, dolar AS diperdagangkan di kisaran 26.056 VND untuk pembelian dan 26.206 VND untuk penjualan, lebih rendah dibandingkan waktu yang sama kemarin.
Untuk mata uang lainnya, euro terpantau menguat di sejumlah bank. Di Vietcombank, kurs jual euro naik 9 dong menjadi 31.074,55 VND/EUR. Sedangkan yen Jepang bergerak mixed; di VietinBank, kurs jual yen justru turun 133 dong ke level 170,73 VND/Yen, sementara di BIDV tercatat sedikit menguat.
Secara keseluruhan, fluktuasi nilai tukar saat ini dinilai belum menciptakan tekanan signifikan terhadap permintaan pembayaran, baik untuk kebutuhan studi di luar negeri maupun pariwisata yang menggunakan mata uang asing.