JAKARTA — Pergerakan rupiah berbalik arah setelah sebelumnya tertekan. Berdasarkan data penutupan, mata uang Garuda membaik dari posisi Rp17.877 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya. Penguatan ini sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turut merespons arahan fiskal pemerintah ke depan.
Lukman menilai pasar melihat target makro yang dipaparkan Presiden masih masuk akal. "Rupiah menguat terhadap dolar AS dan IHSG naik oleh respons positif investor pada pidato RAPBN Presiden Prabowo. Saya melihatnya sebagai cautiously positif," ujarnya di Jakarta, Jumat.
Dalam pidato tersebut, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, lebih tinggi dari asumsi APBN 2026 yang berada di angka 5,4 persen. Adapun inflasi ditargetkan di level 2,5 persen.
Pemerintah juga mematok defisit anggaran Rp671,2 triliun atau setara 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Total belanja negara direncanakan mencapai Rp4.097 triliun.
Sejumlah asumsi dasar ekonomi makro mengalami penyesuaian. Nilai tukar rupiah diasumsikan di level Rp17.500 per dolar AS, lebih tinggi dibandingkan asumsi APBN 2026 yang sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia (ICP) diasumsikan naik menjadi 75 dolar AS per barel dari sebelumnya 70 dolar AS per barel. Untuk lifting minyak mentah, pemerintah menargetkan 610 ribu barel per hari, sesuai dengan asumsi tahun sebelumnya. Adapun lifting gas bumi ditargetkan 954 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD), turun dari 984 ribu BOEPD.
Pemerintah menargetkan angka kemiskinan turun ke kisaran 6-6,5 persen, membaik dari target 2026 yang berada di rentang 6,5-7,5 persen. Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan pada kisaran 4,3-4,87 persen.
Indeks modal manusia dipatok di angka 0,575 dan rasio gini berada pada rentang 0,362-0,367. Target-target ini menjadi bagian dari kerangka pembangunan jangka menengah yang disampaikan Presiden.
Senada dengan penguatan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat menguat ke level Rp17.836 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.882 per dolar AS. "Target pertumbuhan, rupiah, dan defisit masih dapat diterima investor," pungkas Lukman.